Awas! Puting Beliung Masih Ancam Bogor – FAJAR –
Daerah

Awas! Puting Beliung Masih Ancam Bogor

Mobil yang ringsek tertimpa pohon tumbang di Bogor.

FAJAR.CO.ID, BOGOR – Masyarakat Bogor dan sekitarnya diminta tetap waspada akan potensi terjadinya angin puting beliung. Pasalnya, dalam tiga hari ke depan, bencana alam itu masih mengancam.

Stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dramaga, Bogor memprediksi puting beliung masih mengancam warga Bogor tiga hari ke depan.

“Itu dilihat dari potensi hujan lebat disertai angin kencang yang akan terjadi di Bogor,” ujar Kepala Stasiun BMKG, Dramaga, Bogor Budi Suhardi, kepada Radar Bogor, Kamis (6/12).

Untuk wilayah terdampak puting beliung, Budi menuturkan, seluruh wilayah di Kota Bogor maupun Kabupaten Bogor berpotensi terjadi puting beliung. “Kalau di Bogor, itu semua daerah berpotensi terjadi puting beliung,” tuturnya.

Budi memaparkan, hal itu terjadi lantaran saat ini Bogor memasuki musim penghujan. Selain itu, hujan ekstrem dan berat merata di seluruh wilayah Bogor. “Tiga hari ke depan kami prediksi akan terjadi hujan ekstrem berat dan tinggi. Dan puting beliung bisa terjadi,” paparnya.

Untuk angin puting beliung yang terjadi di Bogor Selatan kemarin, lanjut Budi, disebabkan adanya gerakan masa dan tekanan udara dari lokasi tinggi menuju rendah. Untuk Bogor, angin puting beliung berasal dari jalur angin laut Jawa.

“Selain itu juga angin dari Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Angin berputar dan membuat siklon. Seperti yang terjadi di Bogor selatan,” jelasnya.

Budi pun menuturkan, angin puting beliung di Bogor itu bisa terjadi dalam dua waktu. Pertama sesaat sebelum turunnya hujan. Kedua, saat terjadinya hujan. “Puting beliung itu terjadi sebelum hujan besar dan bisa terjadi saat hujan besar. Setelah hujan angin sudah tidak ada,” katanya.

Sedangkan untuk ciri-ciri angin puting beliung itu bisa dilihat dari pertumbuhan awan kumulonimbus. Dari awan tersebut biasanya terlihat satu jenis awan yang memiliki batas tepi sangat jelas berwarna abu-abu yang menjulang tinggi. “Secara visual seperti bunga kol,” jelasnya.

Kemudian, lanjut Budi, dalam fase tersebut, udara naik ke atas dengan cepat dan belum terjadi hujan. Selanjutnya hujan tidak tertahan lagi dan turun. Saat itu, suhu pada turunnya hujan dengan suhu di sekelilingnya lebih dingin akibatnya tekanan ke bawah lebih tinggi dari ke atas.

“Tekanan udara ke bawah dan ke atas itu saling bergesekan dan membentuk pusaran atau siklon dengan kecepatan tinggi,” tukasnya. (all/jpnn)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!