Lima Pekerja Masih Hilang di Papua, Semua Korban Pekerja Istaka Karya – FAJAR –
Nasional

Lima Pekerja Masih Hilang di Papua, Semua Korban Pekerja Istaka Karya

Peti jenazah korban kebiadaban kelompok separatis Papua dikirim ke keluarga korban. (Deny/Cenderawasih Pos/Jawa Pos Group)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Evakuasi 16 jenazah korban aksi kelompok kriminal separatis bersenjata (KKSB) dari Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, selesai. Kemarin (7/12) tujuh jenazah yang diterbangkan dengan helikopter TNI-AD tiba di Timika.

TNI-Polri memastikan seluruh jenazah itu merupakan pekerja PT Istaka Karya. Kepastian tersebut diperoleh setelah rangkaian otopsi selesai kemarin.

Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Infanteri Muhammad Aidi menjelaskan, tujuh jenazah tersebut tiba di Timika sekitar pukul 09.00 WIT. “Semua langsung diotopsi,” katanya.

Berdasar hasil otopsi, Aidi menyampaikan, seluruh jenazah dari Distrik Yigi itu merupakan pekerja PT Istaka Karya. Mereka ditemukan meninggal dengan luka tembak serta luka akibat serangan benda tajam dan benda tumpul.

Hasil otopsi kemarin sekaligus menegaskan kembali bahwa sudah ada 23 pekerja PT Istaka Karya yang ditemukan TNI-Polri. Di samping 16 pekerja yang sudah meninggal, ada tujuh yang pekerja selamat. Jumlah total pekerja PT Istaka Karya berdasar hasil koordinasi dengan perusahaan itu adalah 28 orang. Dengan demikian, masih ada lima orang yang belum ditemukan. Termasuk 2 orang yang hilang dan 3 lainnya yang diduga sudah meninggal.

Aidi menyampaikan nama-nama korban yang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa tersebut. Mereka adalah Agustinus T., Jepry Simaremare, Carly Zatrino, Alpianus, Muh. Agus, Fais Syahputra, serta Yousafat. Selanjutnya, Aris Usi, Yusran, Dino Kondo, Markus Allo, Efrandy Hutagaol, Samuel Pakiding, Anugrah Tolu, Emanuel Beli Naikteas, dan Daniel Karre.

Seluruh jenazah itu sudah diserahkan kepada PT Istaka Karya dan keluarga korban masing-masing. Dengan pesawat milik TNI-AU, kemarin sore seluruh jenazah diterbangkan ke Makassar dan Medan.

“Ada 14 jenazah yang diturunkan di Makassar,” ungkap Aidi.

Dari Makassar, jenazah-jenazah itu kemudian dibawa ke rumah duka masing-masing. Selain Sulawesi, ada pula yang dibawa ke Kalimantan.

Sama dengan 16 jenazah tersebut, tujuh pekerja PT Istaka Karya yang ditemukan selamat juga sudah bersama keluarga masing-masing. Mereka adalah Marthinus Sampe, Jefriyanto, Ayub, Jimmy Aritonang, Johny Arung, Tarki, dan Matheus Palinggi.

Lantas, bagaimana nasib lima pekerja yang belum ditemukan? Aidi memastikan seluruh personel TNI-Polri masih bekerja di Distrik Yigi. Dia mengungkapkan, sampai kemarin, pencarian korban masih berlangsung. Mereka mencari korban yang diduga sudah meninggal maupun selamat saat berusaha melarikan diri dari kejaran KKSB. “Tetap kami lakukan pencarian sampai batas waktu yang belum kami tentukan,” ujarnya.

Selain itu, pasukan gabungan tersebut diperintah mengejar dan menangkap anggota KKSB. “Target kami adalah pelaku tertangkap hidup atau mati,” tegas perwira menengah TNI-AD tersebut.

Pasukan di Distrik Yigi bakal terus bergerak, kecuali para pelaku menyerahkan diri. “Kami akan jamin keamanan mereka,” ujarnya.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berjanji berusaha maksimal untuk menangkap seluruh pelaku. “Aturan harus ditegakkan untuk diselesaikan secara hukum. Sesungguhnya kejadian ini tidak boleh dibiarkan,” kata mantan KSAU itu. Bersama Polri, TNI terus melanjutkan tugas di Distrik Yigi.

Peristiwa pembantaian terhadap 16 pekerja proyek oleh KKSB merupakan salah satu ledakan akibat banyaknya masalah yang tak terselesaikan di Papua. Namun, Polri memandang belum perlu ada langkah penanganan dengan berbagai jalur, baik dialog maupun militer.

Penanganan masalah di Papua masih dilakukan hanya dengan pendekatan militer.

Direktur Eksekutif Partnership of Advancing Democracy and Integrity M. Zuhdan menuturkan, penyebutan KKSB oleh pemerintah menunjukkan bahwa pemerintah hanya menganggap kelompok itu sebagai pelaku kriminal dan separatisme. “Padahal, kriminalitas dan separatisme ini bermuara dari pendekatan politik yang salah,” ungkapnya.

Papua, lanjut dia, didekati dengan cara otonomi khusus oleh pemerintah. Namun, masalahnya, otonomi khusus itu hanya dinikmati elite lokal di Papua. Padahal, di Papua banyak kelompok atau suku yang malah tidak menikmati pembangunan. “Kesejahteraan itu tidak sampai ke mereka.”

(idr/syn/c5/agm/JPC)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!