Malala Raih Gleitsman Award dari Harvard – FAJAR –
Internasional

Malala Raih Gleitsman Award dari Harvard

Malala Yousafzai. (AFP Photo/Arthur Edwards)

FAJAR.CO.ID – Malala Yousafzai tak mengenal lelah mengkampanyekan pendidikan bagi remaja putri di seluruh dunia. Utamanya di negara kelahirannya, Pakistan.

Atas perjuangannya tersebut, Kamis (6/12/2018) dia mendapatkan penghargaan Gleitsman Award dari Center for Public Leadership, Harvard Kennedy School.

”Kisah hidupnya yang luar biasa telah menginspirasi remaja putra dan putri untuk mengikuti jejaknya,” ujar Direktur Center for Public Leadership David Gergen seperti dikutip oleh Pakistan Today. Penghargaan ini diberikan pada orang-orang yang melakukan hal positif dan menginspirasi orang lain untuk melakukannya. Mendiang Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela juga pernah mendapatkan penghargaan Gleitsman Award.

Gergen menegaskan bahwa Malala telah berhasil menunjukkan pada publik bahwa perempuan dan para gadis yang ditindas mampu bangkit dengan ketekunan dan kekuatan yang mereka miliki. Malala yang pernah ditembak di kepala oleh Taliban seakan bangkit dari kematian. Dia tak takut ataupun menyerah dan berdiri di berbagai forum untuk memaparkan pentingnya pendidikan.

Mahasiswa Oxford University itu akan mendapatkan hadiah sebesar USD 125 ribu atau setara dengan Rp 1,8 miliar. Dia juga akan diberi patung yang dipahat oleh Maya Lin. Dia adalah arsitek yang membidani pembuatan Vietnam War Memorial. Lima tahun lalu Malala juga sempat mendapatkan Peter J. Gomes Humanitarian Award dari Harvard University.

Malala sempat memberikan pidato sebelum melakukan diskusi dengan para tamu undangan yang hadir. Diskusi itu dimoderatori oleh Mantan Duta Besar AS untuk PBB Samantha J. Power. Malala mengungkapkan bahwa saat ini ada 130 juta gadis yang tidak memiliki akses terhadap pendidikan yang berkualitas.

”Kita semua harus menjadikan ini sebagai tantangan untuk menantang pandangan-pandangan kritis, keyakinan agama dan semua budaya yang menolak pendudukan untuk kita,” tegas peraih nobel perdamaian 2014 lalu itu.

Power sempat meminta Malala untuk memberikan pesan tentang pengungsi pada delegasi anggota kongres AS terpilih yang datang dalam Bipartisan Program di Harvard Kennedy School tersebut. Mereka baru akan dilantik Januari mendatang. Malala meminta agar para pengungsi tidak disambut dengan gas air mata. Sebab mereka juga tak ingin menjadi pengungsi.

”Kita harus melihat ini dari sisi kemanusiaan dan lebih ramah serta menganggap mereka adalah saudara-saudara kita,” tegas aktivis 21 tahun itu. Dia juga berulang kali menyinggung soal perubahan iklim.

Anggota House of Representative terpilih Alexandria Ocasio-Cortez menyatakan bahwa ada satu benang merah yang menghubungkan perempuan-perempuan sukses. Entah itu CEO perempuan yang masuk jajaran 500 di majalan Fortune maupun pemimpin negara perempuan. Semuanya kerap memaparkan kedekatannya dengan ayah mereka.

Pernyataan itu diamini oleh Malala. Ayahnya memiliki peranan besar atas kesuksesannya. Dia mendukung Malala untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Bahkan ketika Taliban melarang pendidikan untuk perempuan, ayah Malala berusaha melawan.

”Dia (ayahnya Red) tahu itu tak adil,” ujar Malala. Karena itu ayahnya tetap mengirim Malala ke sekolah dan membiarkannya menyuarakan pendapatnya. (sha/IND)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!