Kompetisi Sudah Berakhir, PT LIB Masih Saja Tunggak Kewajiban

Sabtu, 15 Desember 2018 - 15:05 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Seperti lagu lama yang selalu diputar ulang setiap selesai kompetisi, operator kompetisi masih saja menyisakan tunggakan kewajiban. Musim ini, subsidi Rp 7,5 miliar per klub yang dijanjikan tak kunjung sepenuhnya dibayarkan. Khususnya subsidi kompetisi Elite Pro Academy yang mencapai Rp 2,5 miliar.

Kompetisi sepak bola nasional yang berada langsung di bawah PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator sudah hampir sepenuhnya selesai. Liga 1, Liga 2, Liga 1 U-19, dan Elite Pro Academy U-16 telah menghasilkan juaranya.

Saat Persija Jakarta sudah selesai melalukan pawai kemenangan, Sabtu (15/12) dan PSS Sleman sudah lebih dulu melakukan arak-arakan, PT LIB masih saja belum memenuhi hak klub secara baik dan benar.

Subsisi Rp 7,5 miliar yang dijanjikan tidak semuanya sudah dibayarkan. Terutama untuk subsidi Elite Pro Academy yang bernilai Rp 2,5 Miliar. 18 klub Liga 1 yang berpartisipasi musim ini tidak ada satu pun yang sudah menerima dana itu.

Padahal, untuk kompetisi usia dini sudah sepenuhnya selesai dilaksanakan. Baik Liga 1 U-19 maupun Elite Pro Academy Liga 1 U-16. Persib Bandung bahkan sukses juara pada kedua turnamen tersebut.

Di awal musim lalu, PT LIB selaku operator kompetisi menjanjikan dana Rp 2,5 Miliar akan cair ketika klub sudah memenuhi kewajiban untuk membuat akademi. Kemudian diikuti pembinaan yang baik dan ikut dalam kompetisi Liga 1 U-19 dan U-16. Nyatanya, janji tinggal janji. Belum sepeser pun dana subsidi tersebut sampai ke klub.

Manajer Bhayangkara FC AKBP Sumardji membenarkan hal itu. Dia mengatakan sampai tulisan ini dibuat, timnya sama sekali tidak menerima dana tersebut.

Hal senada juga diungkapkan manajer Mitra Kukar Nor Alam. Dia mengungkapkan sampai detik ini belum satu rupiah pun uang ‘pembinaan’ berupa subsidi yang dijanjikan oleh LIB cair kepada Naga Mekes. Padahal semua persyaratan sudah dipenuhi. ’’Belum ada sampai sekarang, kami menunggu,’’ ungkapnya.

Sekretaris Umum PSMS Medan Julius Raja juga mengalami hal yang sama. Dia berharap dana itu bisa segera cair. Selain akan digunakan untuk modal musim depan, seperti belanja pemain, pihaknya juga ingin tahu berapa nilai total subsidi tersebut untuk merekap seluruh laporan tim musim ini.

’’Kami kan harus membuat laporan, jadi harus jelas semuanya. PSMS ini kan modal awalnya meminjam pihak ketiga, harus ada laporan dan pertanggungjawabannya,’’ tuturnya.

Julius menerangkan, Rp 2,5 M tersebut memang bisa didapat dengan sejumlah syarat. Artinya, tidak semua klub mendapatkan dana yang sama. Untuk PSMS sendiri kemungkinan hanya sekitaran Rp 1 miliar saja, karena ada beberapa aspek yang tidak bisa terpenuhi.

’’Salah satunya infrastruktur. Jadi salah kalau Rp 2,5 miliar itu untuk pembinaan saja. Ada beberapa poin yang harus dipenuhi agar dana itu semuanya cair. PSMS beberapa poin tidak bisa memenuhinya,’’ jelas Julius.

Julius menyarankan agar LIB dalam waktu dekat memanggil seluruh kontestan Liga 1 musim ini. Pemanggilan itu dimaksudkan agar LIB bisa menjelaskan secara rinci berapa dana yang diberikan kepada klub.

’’Juga mengenai hak siar, kami tidak tahu menerima berapa. Ini harus segera, karena kami mau buat laporan. Ini penting tidak biasa dianggap remeh,’’ tegasnya. ’’Masalah seperti ini harus diselesaikan musim ini. Musim 2019 beda lagi nanti, jangan numpuk-numpuk.’’

Di sisi lain, Chief Operation Officer (COO) LIB Tigor Shalomboboy membenarkan jika memang dana Rp 2,5 miliar subsidi terhadap klub belum diberikan. LIB mengakui sedikit menunggak. Dana itu baru akan diberikan pada Februari 2019 mendatang.

’’Untuk yang Rp 5 miliar sudah kami berikan, tanya saja ke klub. Kami berikan secara berkala tiap bulan,’’ paparnya.

(rid)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.