Telan Milyaran Rupiah, Proyek APBN Malah Mubazir

Rabu, 26 Desember 2018 - 10:05 WIB

FAJAR.CO.ID, BARRU — Menelan anggaran milyaran rupiah, sejumlah proyek Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) di Kabupaten Barru dinilai mubazir. Pemkab terkesan melakukan pembiaran hingga bangunannya rusak sebelum dimanfaatkan.

Proyek tersebut yakni Pusat Pendaratan Ikan (PPI) Polejiwa dengan nilai proyek Rp 15 milyar. Proyek PPI di Sumpang Binangae juga pernah disiapkan untuk membangun PPI dengan anggaran APBN melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, sudah dibangun pemecah ombak dengan anggaran sekitar Rp 1 milyar.

Proyek ini kemudian dibiarkan macet. Padahal kala itu, PPI direncanakan akan menerima dana APBN hingga puluhan milyar. Proyek APBN macet belum berhenti hanya sampai di pembangunan PPI.

Proyek dengan dana puluhan milyar dari pinjaman Bank Dunia, untuk membangun ratusan ruko ditiga Pasar Kecamatan di Pekkae Tanete Rilau, Pasar Mangkoso di Kecamatan Soppeng Riaja dan di Pasar Palanro di Kecamatan Mallusetasi. Hingga kini sudah delapan tahun dibiarkan mubazir.

Begitu pula dengan proyek listrik tenaga surya (PLTS) yang memakai APBN sekitar Rp 1 milyar untuk pengadaan lampu jalan. Dibeberapa titik tidak lagi berfungsi karena tidak adanya upaya pemeliharaan.

Ketua Komisi II DPRD Barru, H Abu Jahya, Selasa (26/12) tak menampik adanya beberapa proyek strategis yang memakai dana APBN dan Bank Dunia yang terkesan mubazir karena bertahun-tahun keberadaannya di Barru, lalu sama sekali belum dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat.

Bahkan ada proyek APBN yang belum rampung tapi terhenti ditengah jalan seperti PPI Polejiwa. Proyek PPI Sumpang Binangae yang baru dimulai, lalu terhenti. Proyek pembangunan ratusan ruko yang memakai dana pinjaman Bank Dunia juga belum dimanfaatkan.

“Proyek PPI di Polejiwa itu mubazir karena sebelum dibangun,seharusnya dilakukan survei mendalam. Apalagi ombak di Pantai tersebut tergolong besar sehingga berpotensi menyulitkan para nelayan untuk merapat ke PPI tersebut,” ujar Abu Jahya.

Untuk proyek pembangunan ruko di tiga Pasar, juga mubazir. Tetapi kan sudah ada Perdanya dan siap disewakan, seperti ruko di Pasar Pekkae itu banyak peminatnya. Pembangunan ruko Pasar Pekkae tidak strategis karena ditempatkan di luar lokasi Pasar.

“Sementara Ruko pinjaman Bank Dunia di dua pasar di Mangkoso dan Palanro semakin mubazir karena kurang diminati para pedagang, ” terangnya.
Kepala Bapenda Barru, Andi Muhammad yang berusaha dihubungi tidak berhasil. (udi/bkm/fajar)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.