Ditinggal Tiga Pengurus, PAN Evaluasi Diri

Jumat, 28 Desember 2018 - 16:07 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), Bara Hasibuan mengomentari tiga kader partai berlogo matahari ini memilih nonaktif. Menurut Bara, walaupun tiga orang nonakatif. PAN masih tetap solid dan tidak terganggu. Bahkan tidak terganggu adanya kader-kader yang menonaktifkan dirinya tersebut.

“Internal PAN ini tetap solid, tidak ada efeknya terhadap internal partai sendiri. Memang ada bendahara umum PAN yang mundur dan beberapa pengurus, tapi itu saya pikir partai tetap solid,” ‎ujar Bara Hasibuan saat dihubungi, Jumat (28/12).

Bara juga membantah tiga kader tersebut memilih nonaktif bukan adanya perbedaan pandangan di Pilpres. Melainkan karena adanya persoalan internal di dalam partai berlogo matahari ini. Tetapi lebih kepada keinginan pribadi saja.

‎”Terkait masalah internal manajemen partai saja,‎” katanya.

Adanya penonaktifan ini menurut Bara akan dijadikan masukan untuk memperbaiki manajemen partai yang dikepalai oleh Zulkifli Hasan lebih baik ke depannya.

“Itu bagian dari masukan kita tentu kita kan bagian dari input dan menjelang pemilu ini saya pikir sesuatu yang harus kita sikapi secara bijak,” pungkasnya.

Sebelumnya ada tiga kader PAN yang memilih nonaktif, meninggalkan jabatannya dan juga mundur. Pertama adalah Nasurllah yang mengundurkan diri menjadi Bendahara Umum PAN. Pengunduran diri itu terungkap dari surat Nasrullah kepada Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan yang tersebar di kalangan wartawan.

Kemudian kedua adalah, Putra Jaya Husen yang memilih menonaktifkan dirinya dalam segala kegiatan PAN. Termasuk juga dari jabatannya sebagai Sekretaris Dewan Kehormatan PAN.

Alasan ia memilih nonaktif dari partai yang diketuai Zulkifli Hasan karena ‎adanya perbedaan pandangan dengan beberapa elite di PAN. Perbedaan itu mengenai cara pengelolaan partai.

Ketiga adalah, Ketua Badan Cyber dan Multimedia Partai Amanat Nasional (PAN), Agung Mozin ‎memutuskan mundur menjadi kader partai berlogo matahari ini.

Agung beralasan keluarnya dari PAN karena ada perbedaan pendapat dengan ketua umumnya Zulkifli Hasan. Dalam mengelola partai seharusnya merujuk kepada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). Sehingga itu menjadi suatu pedoman dalam berpartai.

Agung menceritakan perbedaan pandangannya dengan ketua umumnya Zulkifli Hasan. Misalnya dalam Pilpres 2014 silam PAN sudah memutuskan mendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Namun saat Zulkifli Hasan terpilih menjadi ketua umum, sikap PAN berubah. Ketika Jokowi-Jusuf Kalla (JK) terpilih menjadi kepala negara, PAN pun berbelok arah mendukungnya di pemerintahan.‎ (gwn/JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.