Geopark Ciletuh, Destinasi Super Keren Liburan Akhir Tahun

0 Komentar

SUKABUMI – Menuju penghujung tahun kurang lengkap rasanya jika tak diisi dengan liburan ke tempat yang super menyenangkan. Salah satu tempat yang bisa kalian kunjungi adalah Geopark Ciletuh, di Sukabumi, Jawa Barat.

Akses ke Ciletuh sangat mudah. Pasalnya destinasi ini telah didukung Tol Bocimi yang baru diresmikan awal Desember kemarin. Meskipun baru seksi 1 saja yang diresmikan, tol ini semakin memudahkan wisatawan untuk berkunjung ke Geopark Ciletuh. Apalagi jika sudah 5 seksi yang diresmikan.

Pilihan destinasinya banyak. Pokoknya super lengkap. Dari mulai wisata gunung, sungai, pantai, sampai air terjun ada disana. Saking banyaknya wisatawan bisa bingung untuk menentukan destinasi mana yang akan dituju.

“Di sini ada lebih dari 50 titik wisata, kalau saya saran paling sedikit waktu ke Geopark Ciletuh itu tiga hari dua malam. Itu juga tidak akan habis dikunjungi semua,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya, Sabtu (29/12).

Nah dari pada bingung, berikut 7 destinasi favorit di zona inti Geopark Ciletuh untuk referensi Anda berwisata.

1. TEBING PANENJOAN

Titik pandang Panenjoan berada di pinggir jalan, Desa Taman Jaya, dengan ketinggian 300-an mdpl. Lokasinya sudah dibuat rapi dengan pagar pembatas di tepi tebing. Semua semakin lengkap dengan menara-menara maupun teras-teras pandang. Selain itu ada tulisan Panenjoan. Amfiteater alam raksasa Ciletuh dapat terlihat utuh dari sini. Dinding tebing setengah lingkaran yang menghadap Laut Selatan seakan melindungi persawahan, perbukitan, serta perkampungan warga di bawahnya. Tampak di kejauhan garis Pantai Palangpang.

2. PANTAI PALANGPANG

Pantai Palangpang di Desa Ciwaru menjadi basecamp paling strategis untuk mengeksplor Geopark Ciletuh di zona intinya. Begitu melewati tempat pelelangan ikan sudah terlihat hamparan pasir pantai di kiri jalan. Terlihat beberapa penginapan di kanan maupun kiri jalan, begitu juga warung-warung tepi pantai. Tulisan “Geopark Ciletuh” berwarna kuning terlihat jelas di salah satu garis pantai.

3. CURUG CIMARINJUNG

Curug ini kelihatan bagian atasnya dari Pantai Palangpang. Terletak juga di Desa Ciwaru, di aliran Sungai Cimarinjung. Tingginya lebih dari 50 meter. Oleh masyarakat sekitar, curug ini lebih dikenal dengan Curug Goong. Pasalnya menurut masyarakat pada hari-hari tertentu terdengar suara gong dari curug ini. Batunya adalah batuan sedimen berjenis batu pasir tufan dan breksi. Di atasnya di aliran yang sama ada Curug Nyelempet dan Curug Dogdog. Ketiganya terbentuk karena proses tektonik. Air curug ini dipakai untuk mengairi persawahan di bawahnya.
Dari Pantai Palangpang berkendara ke sini hanya 5 menit melewati pemandangan persawahan dan perbukitan yang aduhai.
Siapapun yang pernah berkunjung ke sini pasti sepakat curug ini super keren! Dua bongkah batu besar berumput hijau nangkring di ujung tebing teras pertama sebagai penanda khas curug ini. Kekhasan curug ini juga tampak pada aliran airnya yang sempit di bagian atas, lalu membentur latar batu di bawahnya hingga menimbulkan aliran air baru yang melebar.

4. CURUG SODONG

Curug ini juga terletak di Desa Ciwaru. Sering juga disebut Curug Kembar karena ada dua aliran curug bersebelahan, setinggi kurang lebih 20-an meter. Jauh di atasnya terlihat Curug Cikanteh. Saat debit air tak terlalu besar akan terlihat di baliknya ada gua (sodong). Tapi jangan sembarangan masuk kecuali Anda bersama pemandu lokal ya. Selain kembar, ciri khas curug ini adalah adanya batu besar nangkring yang ditopang batu kecil di puncak di antara aliran dua curug tersebut.

Dari Pantai Palangpang ke sini berkendara sekitar 45 menit. Mobil atau motor bisa diparkir di area yang sudah dikonblok rapi tepat di depan curug. Jadi turun ke curugnya tinggal meniti tangga batu yang sudah dibuat rapi. Untuk memotret, jangan cuma puas dari depan curugnya, tapi cobalah melipir ke kiri, maka kita akan dapat foreground sungai kecilnya. Sedangkan kalau melipir ke kanan akan dapat pose curug dengan framing pohon dan bebatuan di depan curug.

5. CURUG CIKANTEH

Curug yang cantik dengan rimbunan pepohonan hijau di sekitarnya ini terlihat dari Curug Sodong. Curug ini merupakan bagian teratas dari rangkaian tiga curug lainnya. Untuk menuju curug ini harus ditempuh dengan berjalan kaki dari Curug Sodong melalui jalan setapak yang menanjak dan berbatu selama 30 menit, serta menyeberangi sungai tanpa tersedia jembatan yang permanen.

6. CURUG AWANG

Boleh dibilang curug ini merupakan mini Niagara. Tingginya sekitar 40 m dengan lebar kira-kira 60 m. Dinding air terjunnya berupa bebatuan coklat. Di sekitar aliran airnya ada sawah yang dihiasi bebatuan purba di sana-sini.

Untuk ke curug yang berada di Desa Taman Jaya ini cukup jauh, sekitar 1 jam berkendara dari Curug Sodong. Kalau hanya mau menikmati curug dari atas gampang. Jalurnya sudah berupa jogging track berkonblok dan datar-datar saja.

Pada aliran Sungai Ciletuh ini ada juga beberapa curug lainnya. Di bawah Curug Awang, 300 m ke arah hilir ada Curug Tengah. Tingginya sekitar 5 meter. Di bawahnya lagi ada Curug Puncak Manik dengan ketinggian kurang lebih 100 meter.

7. PUNCAK DARMA

Jika ingin naik hingga ke Puncak Darma pengunjung bisa memulainya dari parkiran Curug Cimarinjung. Atau bisa juga naik ojek Rp 60.000 PP. Wisatawan juga bisa mengaksesnya dengan trekking antara 1,5 hingga 2 jam. Viewnya keren abis. Dari atasnya kita bisa melihat garis keseluruhan Pantai Palangpang yang berbentuk tapal kuda.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan. Wisatawan yang berkunjung ke Geopark Ciletuh pasti akan terpukau. Geopark ini nyatanya di luar ekspetasi, lebih bagus dari pikiran awal! Wajar saja jika Geopark Ciletuh masuk sebagai UNESCO Global Geopark (UGG).

“Potensinya sangat besar dengan keindahan alamnya yang lengkap. Seperti landscape, gunung, air terjun, sawah, ladang, dan berujung di muara sungai ke laut. Belum lagi spot-spot surfing yang menjadi incaraan surfer dunia. Semua destinasi wisata kelas dunia. Aksesibilitas serta Amenitasnya juga lengkap. Silahkan datang dan buktikan sendiri. Sudah pasti terpukau,” ujar Menpar Arief Yahya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...