Ustadz Yusuf Mansur dan Kyai Maman Imanulhaq Komit Kembangkan Pariwisata Syariah

Kamis, 3 Januari 2019 - 03:03 WIB

MAJALENGKA – Siapa bilang pariwisata hanya sebatas seni budaya dan keindahan alam? Sejak dulu, wisata religi bahkan sudah akrab di telinga sebagian orang. Kegiatan yang kini akrab juga disebut wisata syariah ini memang butuh trik cerdas untuk mengembangkannya. Apa langkah yang harus ditempuh?

Berangkat dari pemikiran tersebut, Ustaz Yusuf Mansur dan Kiai Maman Imanulhaq terlibat pembicaraan serius pada pertemuan di Ponpes Al Mizan Jatiwangi Majalengka, Selasa (2/1).

“Saya sengaja datang ke Majalengka untuk bertemu sahabat saya Kiai Maman, sekaligus melihat secara langsung potensi pariwisata di sini. InsyaAllah, kita akan melakukan pengembangan pariwisata syariah di Ciayumajakuning,” ujar Yusuf Mansyur.

Dai entrepreneur ini melihat wisata religi atau pariwisata syariah sangat memungkinkan untuk digarap di Tanah Air. Sebab, Indonesia adalah negara dengan jumlah masyarakat muslim terbesar di dunia. Jika penggarapannya serius, akan memiliki potensi wisatawan domestik dan luar negeri yang besar.

“Saya kira wisata religi mulai populer belakangan ini. Istilahnya saja yang beragam. Ada yang bilang pariwisata syariah, Islamic Tourism, Halal Friendly Tourism, Halal Travel, Muslim-Friendly Travel, halal lifestyle, dan masih banyak lagi istilah lain,” ungkapnya.

Yusuf menambahkan, pariwisata syariah akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. Ini juga punya nilai taawun (gotong royong) karena ada efek positif berupa pengentasan kemiskinan.

Terkait partnernya, pengasuh Pondok pesantren Daarul Quran Tangerang ini mengungkapkan bahwa Kiai Maman Imanulhaq adalah tokoh muda Islam yang punya jaringan luas baik nasional maupun intenasional. Ia juga dikenal sebagai penggiat pariwisata.

Sementara Kiai Maman Imanulhaq menyatakan, untuk mengembangkan pariwisita diperlukan komitmen dan sinergitas dengan semua pihak. Selain menggandeng Ustaz Yusuf Mansur, ia juga akan melibatkan masyarakat pesantren.

“Semua perlu terlibat langsung, mulai dari mengedukasi masyarakat untuk sadar wisata, mengajak pihak ketiga untuk investasi, dan meminta pemerintah menyiapkan sarana prasarana pendukung,” ucapnya.

Nantinya, kata dia, pesantren bisa terlibat aktif dalam penyediaan cinderamata, penginapan, kuliner, dan transportasi yang memenuhi standar syariah. Sinergitas berbagai pihak akan mampu menggemakan pariwisata Indonesia, sebagai penyumbang devisa terbesar pada tahun 2019.

Asisten Deputi Strategi Komunikasi Pemasaran I Kementerian Pariwisata Haryanto menjelaskan, Kiai Maman bukan orang baru di dunia pariwisata. Sepanjang 2018, ia sukses menggelar Festival Budaya Religi di beberapa tempat. Pertunjukan Wayang Ajen, Sisingaan, dan Festival 111 kuda renggong adalah contoh kegiatan yang pernah ia tangani.

“Wilayah Ciayumajakuning yang akan diembangkan, mempunyai seribu satu destinasi wisata. Baik yang sudah terekspos maupun yang masih tersembunyi. Ini akan jadi primadona pariwisata di Tanah Air,” ungkapnya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani mengatakan kehadiran pariwisata syariah akan memperkuat posisi Indonesia di wisata religi.

“Wisata religi Indonesia salah satu yang terbaik di dunia. Kehadiran pariwisata syariah akan memperkuat status tersebut. Inisiasi menghadirkan wisata syariah harus mendapat dukungan. Karena sangat potensi diterapkan di tanah air,” kata Rizki, didampingi Asisten Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Adella Raung.

Sedangkan Kabid Pemasaran Area I Wawan Gunawan, menilai pariwisata syariah cocok dikembangkan di Jawa Barat.

“Wilayah Jawa Barat sangat kaya akan pariwisata. Berbagai destinasi ada di sana. Dan pariwisata syariah akan melengkapi itu semua,” tuturnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menjelaskan, wisata religi di Majalengka sudah diuntungkan dengan aksesibilitas yang memadai. Hadirnya Bandara Kertajati serta dua jalan tol Cipali dan Cisumdawu, akan lebih mudah menarik wisatawan untuk datang.

“Ciayumajakuning juga sudah ditopang faktor pendukung yang mengakar sejak dulu. Antara lain berupa kultur religi, kearifan lokal, seni tradisi, potensi alam, dan kreatifitas masyarakat. Majalengka, Cirebon, Indramayu, dan Kuningan akan jadi kekuatan besar pariwisata syariah,” tandasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *