Disdik Sulsel Kebanjiran Permintaan Mutasi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel akhirnya kebanjiran permintaan pindah tugas oleh guru dan kepala sekolah.

Hal ini berawal dari, Kebijakan Disdik Sulsel yang pernah dikeluarkan terkait mutasi guru. Medio Agustus dan September tahun lalu dilakukan redistribusi ratusan guru. Alasannya, untuk pemerataan guru dan mengisi kekurangan tenaga pendidik di daerah.

Data dari Disdik Sulsel, Daftar Kebutuhan Guru (DKG) masih ada kekurangan 636 orang. Kekurangan ini berada di Kabupaten Bone, Gowa, Jeneponto, Luwu Timur, Luwu Utara, dan Pinrang.

Namun di awal kepemimpinannya, Gubernur Sulsel Prof Nurdin Abdullah mengkritik kebijakan itu. Dia pun menginstruksikan agar penempatan lokasi mengajar guru harus mempertimbangkan lokasi atau jaraknya dengan keluarga. Mutasi penempatan guru ini pun menjadi program 100 hari Disdik Sulsel.

Pasca keluarnya instruksi dari gubernur tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Sulsel mulai kebanjiran permintaan pindah tugas dari tenaga pendidik SMA/SMK. Utamanya mereka yang jauh dari tempat tinggalnya.

Saat ini sudah ada 50 guru dan kepala sekolah (kepsek) yang mengajukan permohonan hendak pindah tugas. Salah satu alasannya, lokasi tempatnya bekerja jauh dari keluarga.

Sekretaris Disdik Sulsel Setiawan Aswad menjelaskan, saat ini mereka masih menerima usulan dari para tenaga pengajar. Sembari menunggu input data domisili lengkap semua guru dari para kantor cabang dinas.

Tak semua permintaan akan dipenuhi. Kata dia, Disdik akan melihat mana permintaan yang bisa mereka penuhi.

Pasalnya, Setiawan tak bisa mengorbankan siswa di sekolah yang memang notabenenya masih kekurangan tenaga pengajar.

“Jangan sampai mutasi penempatan guru ini merugikan siswa. Memang ada sekolah yang area zonanya sama sekali tak ada guru,” ujarnya, kemarin.

Setiawan mengatakan, semua potensi masalah tetap jadi pertimbangan. Dia tak ingin ada sekolah yang gurunya kosong akibat pindah. Apalagi sampai ada yang tak punya kepala sekolah.

Sebelumnya, program ini sebelumnya sudah diusulkan oleh Kemendikbud. Yakni penempatan guru berdasarkan zonasi. Hanya saja, saat itu pihaknya masih butuh pertimbangan. Salah satunya soal kondisi sebaran guru yang tak merata.

“Ada wilayah yang gurunya menumpuk di kota, sementara di desa-desa kekurangan tenaga pengajar,” tambahnya. (rhm/bkm/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...