Pesawat Ethiopian Dipaksa Mendarat di Batam oleh TNI AU, Ini Alasannya

Senin, 14 Januari 2019 - 20:26 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pesawat kargo milik maskapai Ethiopian Airlines dipaksa mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Senin pagi (14/1). Dua jet tempur F-16 meminta pesawat tersebut turun lantaran pilotnya masuk ke wilayah udara Indonesia tanpa menyebutkan izin. Hanya butuh waktu 20 menit bagi TNI AU untuk memaksa pesawat jenis Boeing B 777F- ET-AVN itu mendarat di Batam.

Danskadron 16 Lanud RSN Pekanbaru Letkol Pnb Bambang Apriyanto mengatakan, penurunan paksa itu berawal ketika Ethiopian Airlines yang hendak menuju Hongkong memasuki wilayah udara Indonesia. “Hanya butuh 20 menit saja sebelum Singapura mengizinkan mendarat di Batam,” tuturnya.

Pesawat itu masuk tanpa bisa menyebutkan izin atau Flight Clearence setelah dihubungi oleh otoritas navigasi udara Indonesia (AirNav) melalui komunikasi radio. “Pukul 07.36 WIB, pesawat Ethiopian Airlines itu masuk wilayah Nias (Sumatera Utara) dari barat ke timur,” jelasnya.

Setelah itu pesawat melintas di atas Sumatera mengarah ke Singapura. Kemudian terdeteksi oleh Pangkosek 3 di Medan, sekitar pukul di 08.03 WIB. Setelah itu, pilot F16 mulai mempersiapkan 2 pesawat dan satu cadangan. Kemudian pukul 08.16 WIB, pilot TNI AU mulai terbang.

“Kami start pukul 08.24 WIB. Airboune 08.30 WIB, langsung mengejar pesawatnya yang mengarah ke timur, Singapura pada ketinggian 41 ribu kaki, dengan kecepatan 445 knot,” bebernya.

Saat akan dicegat, pesawat tersebut turun pada ketinggian 24 ribu kaki. Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) kemudian, langsung memerintahkan dua pesawat tempur F-16 dari Skadron Udara 16 Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru untuk melakukan identifikasi visual dan penyergapan.

“Ketika itu jarak sekitar 90 mil dari Pekanbaru mengarah ke Singapura, kemudian prajurit bisa komunikasi dengan pilot Ethiopian Airlines melalui radio,” sebutnya.

Pesawat F-16 dengan call sign Rydder Flight yang diawaki oleh Kapten Pnb Barika (TS-1627) dan Kapten Pnb Anang (TS-1633) berhasil melakukan kontak visual dengan B777 ET-AVN serta melakukan komunikasi pada frekuensi darurat. “Kami tanya mereka melalui radio, apa tujuannya dan mau ke mana. Lalu mereka tak bisa memperlihatkan izin untuk melintas. Lalu kami memaksa pilotnya untuk mendaratkan pesawatnya di Bandara Hang Nadim Batam,” tuturnya.

Tujuannya untuk dilakukan proses hukum dan penyelidikan oleh pihak TNI AU di Lanud Raja Haji Fisabillah, Tanjung Pinang. “Pada pukul 09.33 WIB pesawat B777/ET-AVN mendarat di Batam disusul oleh dua pesawat F-16 TNI AU pada pukul 09.42 WIB,” paparnya.

Bambang menyebutkan, sempat mengalami kendala saat proses penurunan paksa. Sebab, pesawat yang membawa barang itu berada di ruang udara Indonesia yang dikendalikan Singapura.

“Kendalanya karena posisi pesawat Ethiopian Airlines itu berada di ruang udara Batam yang masih dikendalikan Singapura. Sedikit kendala, tapi akhirnya lancar karena kami bawa mereka berputar di udara untuk menurunkan ketinggian,” pungkasnya. (JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *