Kata Pigai, Kalau Jadi Presiden dengan Kualitas Seperti Jokowi, Orang Papua Banyak

FAJAR.CO,ID, JAKARTA – Hampir sebagian besar public Indonesia kecewa dengan hasil debta Pilpres 2019 yang diselenggarakan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) semalam, Kamis (17/1). Debat tersebut diklaim tidak mampu meyakinkan masyarakat untuk menentukan pilihan mereka pada 17 April mendatang.

Kekecewaan itu juga dating dari tokoh masyarakat Papua, Natalius Pigai. Mantan Komisioner Komnas HAM ini mengaku kecewa dengan penampilan para pasangan calon, terlebih kepada Capres nomor urut 01 yang notabene adalah petahana.

Menurut Pigai, Jokowi seharusnya sudah mengalami kemajuan dalam kapasitas dan kompetensi baik pengetahuan bernegara maupun memimpin negara. “Ternyata sangat sangat sangat memprihatinkan. Kemampuannya belum sampai untuk mengelola negara sebesar Indonesia ini,” kata mantan komisioner Komnas HAM ini di Jakarta, Jumat (18/1).

Secara eksplisitf, Pigai menyatakan sangat kecewa terhadap Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, parpol juga orang-orang yang mendorong Jokowi untuk dipaksa menjadi presiden.

“Kalau untuk menjadi presiden dengan kualitas sekelas itu orang Papua juga banyak, bahkan lebih hebat dari Joko Widodo untuk menjadi presiden,” sindirnya.

Pigai menyebutkan, setidaknya ada tiga indikator kompentensi pengetahuan bernegara Jokowi belum cukup.  Pertama, bisa disaksikan dalam debat capres tadi malam, seorang kepala negara membaca teks yang disiapkan Sekretaris Kabinet Kerja, Pramono Anung bolak balik sampai selesai.

Kedua, menurut dia, Jokowi tidak mampu menyampaikan aspek-aspek krusial bernegara yang dihadapi dan kebijakan yang memberi harapan. “Ketiga, Joko Widodo lebih banyak menyerang pribadi Prabowo dan Gerindra seperti kanak-kanak dan penggosip,” lanjutnya.

Pigai menekankan, kata-kata Jokowi adalah contoh nyata ketidakpahaman tentang pembagian kekuasaan antara yudikatif, eksekutif dan legislatif (trias politica).

“Kalau kita membiarkan Joko Widodo memimpin lagi maka sudah bisa diperkirakan faktor kapasitas pengetahuan dan kemampuan yang dimilikinya, Indonesia akan mengalami degradasi praktek dan pengetahuan bernegara,” kata Pigai. (RGR/Fajar/rmol)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : RBA

Comment

Loading...