Nasib 6.000 Pemulung Terancam Karena ini

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Pelarangan penggunaan plastik, mengancam kehidupan 6.000 pemulung di Kota Makassar. Hal itu diungkapkan Ketua Asosiasi Pemulung Kota Makassar, Hamzah Hamid.

Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Beracun Berbahaya (B3), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) saat ini memang tengah menyusun draf Peraturan Menteri tentang pengurangan penggunaan plastik.

Menurut Hamzah, sebanyak ribuan pemulung di Kota Makassar menggantungkan hidupnya dengan mengumpulkan barang bekas seperti plastik. Sehingga ia meminta pemerintah mengkaji kebijakan tersebut.

“Saya rasa peraturan itu sulit diterapkan disini, buktinya ini sudah satu tahun lebih digodok tetapi belum, saya rasa peraturan ini kurang efektif,” kata Hamza.

Hamzah mengaku, sebaiknya yang dilarang itu adalah penggunaan kantong plastik, sebab kantong plastik merupakan barang yang tidak bisa didaur ulang.

“Kalau plastik plastik semacam botol air mineral itu kan bisa didaur ulang, kalau kantong plastik ya memang tidak bisa didaur ulang jadi tidak masalah kalau itu dilarang,” jelasnya.

Sebagai Ketua Asosiasi Pemulung, ia sangat mendukung langkah pemerintah dalam hal ini KLHK untuk membuat aturan pelarangan penggunaan kantong plastik, apalagi itu menyangkut keselamatan dan kesehatan masyarakat. Pasalnya, kata Hamzah, pemerintah tidak serta merta memgeluarkan kebijakan tanpa melalui proses penelitian dan kajian.

“Kalau berbicara penghasilan itu hanya sebahagian kecil, yang lebih penting itu adalah kesehatan dan keselamatan kita semua,” katanya.

Sementara itu, Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan Pomanto mengatakan, penggunaan plastik di kota-kota lain seperti Bogor memang dilarang, sebab di kota tersebut tidak memiliki bank sampah. Danny sapaannya menambahkan,pengurangan sampah plastik di Kota Makassar mempunyai metode tersendiri dengan melakukan pengendalian plastik.

“Jadi memang di kota-kota lain itu dilarang, karena memang mereka tidak mempunyai bank sampah seperti kita disini. Itu salah satu alasannya,” kata Danny.

Olehnya itu, ia menegaskan bahwa, sampai saat ini Pemerintah Kota Makassar belum mengeluarkan aturan tentang pelarangan penggunaan plastik. Pasalnya tidak diinginkan ada imbas dari inovasi bank sampah yang dicetus selama ini.

“Karena kalau saya bikin statemen bilang dilarang maka ballassi kodong bank sampah, sementara bank sampah sudah tersebar dimana-mana bahkan sudah menjadi percontohan nasional,” ungkapnya.

Namun Danny menekankan kepada seluruh masyarakat jika sampah plastik sebaiknya tidak dibuang disembarang tempat. Sehingga kebijakan yang nantinya dikeluarkan oleh pemerintah pusat, tidak membuat inovasi-inovasi Makassar seperti bank sampah tidak berfungsi secara maksimal.

“Yang pasti saya tegaskan kembali bahwa sampah plastik tidak boleh dibuang di air dan jangan dibuang disembarang tempat, supaya tidak ada pernyataan yang bisa membuat bank sampah mati,” tutupnya. (nug/bkm/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Syarifah Fitriani

Comment

Loading...