Pengamat: Debat Pilpres 2019 Kaku dan Tidak Menarik

Jumat, 18 Januari 2019 - 16:21 WIB
Pangi Syarwi Chaniago

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Debat putaran pertama berjalan kaku dan kurang menarik, masih sangat jauh dari harapan publik.

Visi-misi yang disampaikan kedua pasangan calon belum menyentuh akar persoalan dan justru kedua kandidat terjebak pada retorik general yang bersifat normatif.

Secara umum visi-misi kedua pasang calon dalam dibidang Hukum dan HAM, kurupsi dan terorisme tidak jauh berbeda, lebih kepada pendekatan persoalan masalah yang  mungkin bisa sedikit membedakannya (distingsi).

Paslon 01 lebih menekankan pada reformasi kelembagaan dan penguatan sistem. Sedangkan paslon 02 lebih menekankan pada kepastian hukum dengan pendekatan behavioral/perilaku aparat penegak hukum memastikan kesejahteraan.

Dari segi kepastian hukum, kedua paslon juga memberikan pandangan yang hampir sama, memastikan tidak terjadi dan atau menertibkan peraturan-peraturan yang tumpang tindih, namun paslon 01 lebih menekankan pada sinkronisasi lewat badan legislasi nasional, sementara paslon 02 lebih menekankan pembinaan peraturan dengan melibatkan partisipasi publik dan para ahli di bawah kendali langsung presiden untuk menjamin adanya kepastian hukum.

Untuk konteks HAM, kedua paslon sepertinya tidak punya prioritas yang jelas, secara konseptual juga keliru dalam memahami persoalan dan cenderung membahas hal remeh-temeh. Kedua paslon tidak bisa membedakan antara konsep hak azasi dengan hak warga negara, hak azasi itu bersifat melekat (given) pada individu yang harus dilindungi.

Sedangkan hak warga negara harus dipenuhi oleh negara. Kerancuan jalan berfikir pada akhirnya membuat kedua paslon tidak punya fokus yang jelas untuk menyelesaikan akar persoalan, faham saja tidak bagaimana mau carikan solusi.

Untuk pemberantasan korupsi, kedua pasangan juga masih berkutat pada jawaban yang bersifat umum dan normatif. Paslon 01 menekankan pada proses rekruitmen aparat yang punya kapasitas melalui merit-sistem dan untuk jabatan politik dengan menekan politik biaya tinggi namun kering narasi masing masing paslon bagaimana pikiran mereka membuat politik biaya rendah untuk menjadi pemimpin.

Paslon 02 tetap pada pendekatan integritas aparat dengan perbaikan kesejahteraan aparat negara dengan menaikkan tax ratio sebagai sumber pendanaan, melakukan pengawasan internal yang ketat melalui penegakan disiplin yang ketat serta melakukan perbaikan pencatatan aset negara.

Untuk isu penanggulangan terorisme paslon 01 masih pada posisi melanjutkan program pemerintah melalui upaya deradikalisasi dengan mengindentifikasi akar persoalan.

Akar persoalannya bisa pada pemahaman keagamaan yang salah, maka pendekatan keagamaan dipandang akan lebih efektif. Jika akar masalahnya pada soal kesejahteraan maka membuka kesempatan dan akses terhadap pekerjaan akan dibuka lebih luas.

Sementara paslon 02 lebih kepada sisi akar masalah, namun menawarkan pedekatan yang lebih persuasif dan lebih menekankan pada upaya pencegahan melalui peningkatan kapasitas aparat keamanan, intelijen dan pelibatan TNI dalam skala tertentu melalui pemetaan resiko.

Jalannya debat putaran pertama jika kita lihat dari segi penyelenggaraan masih jauh dari kata sempurna. Publik masih belum terpuaskan dengan format debat yang masih kaku dan belum cair. Wajar dan tak berlebihan agar debat pertama dievaluasi termasuk pemberian kisi kisi pertanyaan yang membuat capres dan cawapres tidak genuine, tidak berselancar dengan pikirannya liarnya dan tidak berpetualang dengan ide dan gagasan besar yang ada di dalam otaknya.

Namun setidaknya ada catatan penilaian terhadap jalannya debat tersebut.

Pertama; penguasaan masalah. Dalam aspek penguasaan masalah kedua kandidat masih belum mampu menunjukkan kapasitas/performa terbaiknya, masih terdapat kekurangan di sana-sini bahkan ada beberapa segmen yang justru jawabannya tidak nyambung, di luar konteks dan tidak menjawab inti persoalan.

Ke Dua; Program kerja, Kedua kandidat juga belum menawarkan program kerja yang nyata. Bahkan petahana sendiri terkesan memposisikan diri sebagai pendatang baru dengan visi baru.

Ke Tiga; Komunikasi, debat putaran pertama cukup mengejutkan di mana petahana lebih cenderung emosional ketimbang penantang yang lebih santai. Momentum politik oleh penantang tidak dimanfaatkan untuk menyerang petahana jika memang dianggap gagal. Jadi, petahana lebih agresif, sementara sang penantang seperti tak punya beban dan enjoy.

Ke Empat; kalau kita perhatikan dari jauh, cawapres 01 belum terlalu banyak membantu, Ma’ruf Amin lebih banyak diam, apakah karena sudah desain seperti itu? Mungkin ada ketakutan kalau beliau terlalu banyak bicara dikhawatirkan banyak blunder. Sementara Cawapres 02, Sandiaga Uno cukup baik, berbeda dengan Ma’ruf Amin yang lebih banyak diam dan setuju dengan pikiran dan narasi Jokowi, cawapres 02 cukup baik dan maksimal memanfaatkan waktu tersisa, peran berbagi terkesan pada paslon 02, sehingga Prabowo tidak di-stempel terlalu mendominasi.

Ke Lima; kalau kita lihat dan cermati lebih seksama, walaupun pertanyaan debat kali ini sudah ada kisi-kisi dari KPU, namun tetap capres 01 melihat kertas contekan teks. Sementara, capres 02 tidak terlihat melihat contekan, berupaya tetap percaya diri menyampaikan pikiran dan narasinya dalam debat perdana.

Kalau kita lihat konteks isu debat soal penegakan hukum, terorisme, korupsi dan HAM, idealnya ini bisa menjadi panggung milik Prabowo, namun Prabowo tidak berhasil mengambil dan menguasai panggung debat perdana.

Contoh Prabowo tidak fokus menagih janji incumbent soal kegamangan dalam penegakan hukum dan keadilan, menjawab kegelisan masyarakat soal hukum yang tunduk pada kehendak kekuasaan, semestinya hukum adalah panglima, hukum harus di atas kekuasaan, tentu dibantu dengan data fakta yang terukur, contoh yang jelas, indikator yang terukur.

Fokus menagih janji Jokowi menyelesaikan kasus HAM masa lalu, kasus OTT dan korupsi yang kita tidak tahu ujungnya dan seakan tidak berhenti, kasus Novel Baswedan dan seterusnya, namun narasi di atas ngak keluar dari capres 02.  Prabowo belum terlihat berhasil mengeluarkan kartu mati/kartu truf yang ditujukan ke capres 01.

Untuk fase awal ini sepertinya publik disuguhi tontonan debat yang kurang berkualitas, terkesan hanya untuk memenuhi kewajiaban atas ketentuan undang-undang.

Kita belum terlalu yakin bahwa pasca debat perdana, apakah pemilih sudah punya preferensi politik memutuskan pilihan yang sebelumnya masih ragu-ragu (undecided voter), menjadi voter yang semakin mantap dan yakin memilih (strong voter) baik capres 01 maupun capres 02?

Debat perdana kali ini nampaknya hanya memperkuat basis grasroot dukungan masing masing capres 01 dan capres 02, saya belum terlalu yakin terjadi pergeseran selera, yang awalnya memilih Jokowi kemudian menyeberang/banting stir memilih Prabowo dan sebaliknya.

Belum terlihat upaya serius dengan membuat format debat yang tidak kaku dan terlalu banyak aturan, debat pilpres bercita rasa cerdas cermat. Khitah debat sebagai salah satu metode kampanye mencapai target dan sasarannya, menarik minat dan mencerdaskan publik.

Semoga dalam debat selanjutnya ada perbaikan!

*Oleh: PANGI SYARWI CHANIAGO*

Pengamat Politik, Sekaligus Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting (Ron)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.