Klaim Operasi Caesar Naik Rp 1,3 Triliun, BPJS Duga Ada yang Janggal

Minggu, 20 Januari 2019 - 14:59 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – BPJS Kesehatan terus memantau klaim yang diajukan beberapa rumah sakit (RS). Hal itu dilakukan untuk mencegah potensi kecurangan pada pengajuan klaim pembiayaan.

Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Rujukan (JPKR) BPJS Budi Mohamad Arief mengatakan, mengetahui adanya perilaku curang sejatinya tidak mudah.

Harus ada saksi, bukti, dan data yang bisa dipertanggungjawabkan. Karena itu, pihaknya akan mengkaji lagi data-data kasus yang mengalami lonjakan drastis setiap tahun dan dinilai janggal. Namun, proses telaah tidak hanya dilakukan BPJS. Kementerian Kesehatan perlu dilibatkan. Bila perlu, KPK juga digandeng. Sebab, dana yang dikucurkan untuk membayar klaim berasal dari APBN.

Salah satu tindakan medis yang bisa berpotensi anomali adalah operasi Caesar. Berdasar data BPJS Kesehatan pada 2017, sebanyak 57 persen proses persalinan di RS dilakukan dengan operasi Caesar. Akibatnya, BPJS harus mengeluarkan kocek hingga Rp 4,1 triliun.

Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan 2016. Saat itu, operasi Caesar hanya 39 persen dan klaim yang dibayarkan BPJS Kesehatan hanya Rp 2,8 triliun. Atau naik Rp 1,3 triliun.

”Dari data tersebut, bisa dilihat ada anomali. Dari situ nanti kami cek apakah sesuai saran medis atau tidak,” ucap Kepala Humas BPJS Kesehatan M. Iqbal Anas Ma’ruf kepada Jawa Pos (Grup Fajar) kemarin.

Dalam kurun waktu empat tahun terakhir, biaya yang dikeluarkan BPJS untuk membayar biaya persalinan dengan operasi Caesar selalu meningkat. Pada 2014, BPJS menyetorkan Rp 1,6 triliun. Tahun berikutnya bertambah Rp 700 miliar menjadi Rp 2,3 triliun.

Staf JPKR BPJS dr Kamelia mengungkapkan, potensi penyalahgunaan layanan bisa berasal dari dua sisi. Yakni, dari sisi peserta maupun penyedia fasilitas kesehatan (faskes).

Dari sektor faskes, bisa saja dokter mengedukasi pasiennya untuk melakukan tindakan Caesar. Padahal, sebenarnya pasien mampu melahirkan normal. ”Otomatis tarifnya bisa lebih tinggi dua sampai tiga kali lipat. Model seperti itu tentu menguntungkan rumah sakit karena menerima dana lebih banyak,” terangnya. (JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *