Masyarakat Diminta Debat dengan Santun Tanpa Ujaran Kebencian  

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Di tengah kontestasi politik yakni Pemilihan Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) yang semakim dekat, berbagai manuver dan kampanye para calon mulai digalakkan. Para kandidat calon presiden dan calon wakil presiden (Capres-cawapres) sendiri telah memulai pertandimgan dengan melakukan debat dengan menebar visi, misi, janji dan harapan kepada masyarakat.  Namun debat tersebut tidak hanya dilakukan para kandidat. Para pendukung dari dua kandidat pun juga telah ikut berdebat baik di  ruang sosial maupun di dunia maya.

Namun yang perlu diperhatikan bagi para pendukung kedua calon untuk dapat  mengedepankan etika, adab dan kesantunan dalam berdebat. Hal ini agar masyarakat di didik untuk tidak mudah menyebar ujaran kebencian antar satu dengan lainnya. Hal tersebut dikarenakan  dari kebencian tersebut dapat mengakibatkan tindakan kekerasan.

Untuk itu Guru Besar Hukum Internasional dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Hikmahanto Juwana, SH, LL.M, Ph.D meminta masyarakat para pendukung para calon kontestan poltik ini untuk bisa menahan diri agar tidak mudah terpengaruh dengan debat yang mengandung unsur ujaran kebencian di dunia maya.

“Ditengah debat calon kandidat yang semakin memanas, sudah seharusnya masyarakat para pendukung para kandidat ini harusnya secara rasional dalam mendapatkan informasi apapun dari dunia maya ataupun di dunia nyata untuk dapat menahan diri jika menemukan adanya ujaran kebencian yang dilakukan pendukung para kandidat yang juga ikut berdebat melakukan berdebatan,” ujar Hikmahanto Juwana di Jakarta, Selasa (22/1/2019).

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Redaksi


Comment

Loading...