Status Siaga, Pintu Air Waduk Bili-bili Belum Ditutup – FAJAR –
Sulsel

Status Siaga, Pintu Air Waduk Bili-bili Belum Ditutup

Kondisi aliran Sungai Jeneberang dilihat dari Jembatan Kembar, Kabupaten Gowa, Selasa (22/1). (Sahrul Ramadan/JPC)

FAJAR.CO.ID, GOWA – Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Kabupaten Gowa intens melakukan pemantauan elevasi Waduk Bili-bili. Sejak Selasa (22/1) hingga Rabu (23/1), pintu air masih terus dibuka untuk mengurangi volume di dalam waduk.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang Teuku Iskandar mengatakan, tinggi permukaan air di Waduk Bili-bili terus menurun. Hingga pukul 16.10 WITA, elevasi Waduk Bili-bili sudah mulai turun menjadi + 100.49. Volume debit air tercatat 275,121 juta meter kubik. Dengan aliran air masuk berkecepatan 884,65 meter kubik per detik dan aliran keluar 884,92 meter kubik per detik. “Status masih batas siaga. Mudah-mudahan terus menuju ke elevasi normal,” kata Iskandar, Rabu (23/1).

Sebagai perbandingan, elevasi mencapai +100,91 meter pada Rabu pukul 8.00 WITA. Sedangkan Selasa (22/1) malam pukul 21.50 WITA, elevasi mencapai +101,80 meter. Lalu pukul 19.33 WITA, elevasi tercatat +101,87 meter.

Iskandar menjelaskan, pembukaan pintu air Waduk Bili-bili mengikuti standar tingkatan status tinggi muka air. Pintu ditutup jika elevasi turun di bawah batas elevasi normal +99,50 meter.

“Kami harapkan intensitas hujan makin berkurang, supaya tidak memberikan dampak yang besar terhadap aliran inflow bendungan Bili-bili,” jelas Iskandar.

Sekarang tinggi muka air masih berstatus Siaga atau tiga tingkat di atas status normal. Adapun status maksimal adalah Awas, yakni +103 meter.

Balai Besar Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah IV Makassar mencatat, dalam dua hari terakhir terjadi hujan dengan intensitas sangat lebat di sebagian wilayah Sulsel. Senin (21/1) lalu, curah hujan terpantau berkisar antara 84-197 milimeter. Sedangkan pada Selasa (22/1) antara 65,4-92 milimeter.

Kepala BBMKG Wilayah IV Joharman mengatakan, curah hujan tinggi disebabkan adanya daerah tekanan rendah di sekitar Laut Timor. Kelembaban udara dalam kategori sedang hingga kuat juga menyebabkan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Sulsel. “Kondisi ini terjadi khususnya pada pesisir Barat dan Selatan,” terang Joharman melalui keterangan tertulisnya.

Dalam tiga hari ke depan atau tepatnya 24-26 Januari 2019, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai angin kencang diperkirakan masih terjadi di Sulsel bagian Barat. Antara lain di Kota Makassar, Kabupaten Maros, Pangkep, Barru, Gowa, serta bagian selatan meliputi Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantaeng, Bulukumba, dan Kepulauan Selayar.

“Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan. Antara lain potensi banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang dan jalan licin. Masyarakat agar tetap memperbarui informasi dari BMKG serta instansi terkait,” imbau Joharman.

Seperti diketahui, tingginya curah hujan dan pembukaan pintu air Waduk Bili-bili telah menyebabkan banjir di sembilan kecamatan di Gowa. Banjir juga menerjang daerah lain di Sulsel. Seperti Makassar, Maros, Pangkep, Takalar, dan Jeneponto.

(JPC)

Click to comment

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!