Di Jeneponto, 56 Rumah Hanyut dan 10 Warga Meninggal Dunia

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JENEPONTO — selain Kabupaten Gowa, Kabupaten Jeneponto juga menjadi salah satu daerah di Provinsi Sulsel yang terdampak banjir cukup parah. Sedikitnya 56 unit rumah hanyut dan rusak berat 117 unit. Paling memiriskan hati, ada 10 orang meninggal dunia.

Hal ini disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jeneponto, H Anwaruddin Munassar saat ditemui di Posko Penanggulangan Bencana Daerah yang juga halaman kantor Satpol PP, Jalan Lanto Dg Pasewang.

Juga tampak hadir, Bupati Jeneponto, H Iksan Iskandar, Sekkab, Syafruddin Nurdin, Dandim, Sugiri, Kapolres, Hery Susanto, Kepala Dinas Sosial, Rusli Ramli, dan kepala OPD. Mereka menyaksikan langsung penyaluran bantuan kepada korban bencana banjir berupa beras, makanan siap saji, minuman kemasan, pakaian, selimut, dan lainnya. Bantuan diterima para camat, kades, dan lurah, pada Kamis (24/1)

Kepala BPBD Jeneponto, H Anwaruddin Munassar mengatakan, melihat banjir diawal tahun 2019, mungkin ini yang terparah sepanjang sejarah Jeneponto. Karena hampir sebagian besar atau sekitar 11 kecamatan serta 133 desa dan kelurahan diterjang banjir pada 22 Januari 2019 lalu.

”Yang terparah kami sudah kunjungi bersama Bupati Iksan dan Wabup Paris, yakni Desa Sapanang Kecamatan Binamu. Dimana, meninggal dunia 7 orang, yakni Uca (70 tahun), Iji (45), Risa (75), Rijal (20), Jumali (40), Shaka (25), dan Manja (35).

Bukan itu saja, kata Anwar, di Desa Sapanang terdapat 56 rumah hanyut dibawa air bah serta 117 rumah rusak berat karena umumnya tiang-tiang rumah patah. Sehingga kebanyakan rumah miring sudah sulit untuk ditinggali

Lebih miris lagi, kata Anwaruddin, di Kecamatan Turatea 2 orang meninggal, yakni Abd Patta dan Sania. Keduanya beralamat Kampung Jombe. Namun yang mengherankan kepala sekolah SMP V Kecamatan Turatea, almarhum Abd Patta hanyut di Kampung Jombe, Kecamatan Turatea. Namun mayatnya sudah rusak didapat atau terdampar di pinggir pantai Kampung Lassang2, Kecamatan Arungkeke.

”Langkah kami sekarang dan tim, yakni akan memantau atau menyisir seluruh pelosok se Kabupaten Jeneponto,” kata Anwaruddin seraya menambahkan, kerugian akibat bencana banjir ini mencapai ratusan miliar rupiah.

Bupati Jeneponto, H Iksan Iskandar mengatakan, dirinya baru melihat peristiwa banjir yang maha dahsyat seperti ini. Apalagi sampai menelan korban jiwa begitu banyak. Juga rumah, jembatan, empang, tambak, dan lahan pertanian, semua porak poranda akibat air bah.

Bupati mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk tenang dan jangan mau jadi provokator atau membuat berita hoax.

”Sedikit-sedikit kita dengar ada tsunami. Padahal tidak ada. Itu yang membuat kita pusing. Ke depan, menurut keterangan resmi dari BMKG Jeneponto, cuacanya semakin baik sehingga penanggulangan bencana akan semakin tertanggulangi secara maksimal jelas Iksan. (krk/bkm/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...