Didukung Perbankan, Ditjen PSP Optimistis Program SERASI Sukses

0 Komentar

JAKARTA – Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) optimistis program Selamatkan Rawa Sejahterakan Petani (SERASI) bisa sukses. Apalagi, program ini mendapat dukungan dari kalangan perbankan.

Program ini akan memanfaatkan potensi lahan rawa yang sangat di beberapa wilayah di tanah air, dengan mekanisasi pertanian dan dijalankan dengan koperasi yang di korporasikan.

“500 ribu hektare rawa di enam provinsi yakni Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Lampung, Jambi, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Tengah, bakal dimanfaatkan sebagai lahan pertanian produktif. Hal ini dilakukan untuk mendorong kesejahteraan petani berbasis koperasi yang dikoorporasikan melalui Serasi,” ujar Dirjen PSP Kementan Dadih Permana.

Dia menyampaikan, pemanfaatan lahan rawa menjadi pertanian akan terintegrasi dengan peternakan, perkebunan dan persawahan. Amran mengatakan, Serasi akan dikerjakan bersinergi dengan lembaga pemerintahan lainnya.

“Guna mendukung capaian yang baik terkait pemanfaatan rawa untuk pertanian, maka juga didukung dengan pengembangan mekanisasi serta teknologi,” lanjutnya.

Menurut Kepala Divisi Bisnis Usaha Kecil 2 Bank BNI, Bambang Setyatmojo, program SERASI merupakan sebuah terobosan baru untuk meningkatkan produktifitas pertanian dengan mengoptimalkan lahan rawa.

Dan yang lebih bagus lagi tambahnya, luasannya yang luar biasa menjadikannya ideal untuk melakukan korporatisasi.

“Kalau kita bikin usaha skalanya kecil itu tidak akan ekonomis. Kementan bilang 5 ribu kemudian kan ada mekanisasi, ada penguatan kelembagaan petani, kemudian petani nanti produksinya bukan hanya gabah tapi juga beras, menurut saya akan luar biasa untuk meningkatkan kesejahteraan petani. Produktifitasnya naik, kesejahteraan petani pasti naik,” ujar Bambang.

Ia menceritakan Bank BNI saat ini sudah mengerjakan program pembiayaan dengan 60 ribuan petani. Sementara untuk tahap awal program SERASI akan dibantu pemerintah. Mulai dari lahan, alat pertanian, benih, hingga pupuk. Dengan demikian beban terhadap perbankan akan lebih kecil.

“Nah apalagi ini sudah dibantu. Jadi kami stand by saja. Kalau nanti petani butuh pupuk karena subsidi pupuk kurang, kami akan bantu dengan pembiayaan. Termasuk juga untuk biaya hidup, dalam 4 bulan menunggu panen misalnya petani butuh biaya untuk kebutuhan hidup, kami bantu pembiayaan,” tambah Bambang.

Ia membayangkan kalau 5 ribu hektar lahan dengan korporatisasi yang lahannya sudah terkonsolidasi akan sangat menjanjikan.

“Bandingkan kalau di Jawa yang 1 orang cuma 3 ribu meter. Kalau ini 1 orang bisa 2 hektar, kemudian dikumpulkan dalam satu hamparan luas, terkonsentrasi. Irigasinya bisa diatur, masa tanamnya diatur, panennya juga begitu. OK banget menurut saya,” pungkas Bambang.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...