SI SET-SET-WET DI ERA DIGITAL

0 Komentar

Oleh: Joko Intarto

Tidak salah saya bertemu Pak Lambang Saribuana. Pengusaha logistik itu memang trengginas. Orang Surabaya bilang: set-set-wet! Kalau bisa dikerjakan sekarang, tidak ada cerita minta tempo.

Terus terang saya baru sekali bertemu dengan Ketua Lazismu Kantor Layanan Manggarai, Jakarta Selatan itu. Meski, namanya sudah saya dengar lama. Juga sepak terjangnya: Mendistribusikan bantuan ke berbagai daerah bencana. Lewat program pengiriman bantuan cuma-cuma.

Pertemuannya pun tidak sengaja. Saya hanya kirim-kirim informasi baru tentang perkembangan teknologi video conference. Ini program penyebaran informasi biasa. Rutin. Seminggu sekali.

Penyebaran informasi itu saya lakukan sendiri. Untuk orang-orang yang saya kenal. Atau grup yang saya menjadi membernya. Bukan untuk jualan. Hanya berbagi pengetahuan.

Harap maklum, video conference ini barang baru. Yang sedang naik daun. Banyak orang yang perlu. Tapi hampir semua orang masih bingung.

Dari sekian banyak orang yang menerima kiriman saya, ada satu yang merespon. ‘’Saya tertarik. Tapi bagaimana caranya?’’ tanya orang itu melalui whatsapp.

Saya buka profilnya. Tertulis: Lambang Saribuana. Oh ini dia jagoan kargo dari Manggarai. Pikir saya. ‘’Bagaimana kalau Bapak mencoba langsung dengan hape?’’ jawab saya.

Sore itu, Pak Lambang langsung mencoba. Ia tampak girang bukan main. Senyumnya mengembang terus. Saya melihatnya di layar laptop. Pak Lambang di Manggarai. Saya di Kelapa Gading. Mas Eddy Tatto yang menjadi host di Tebet. Lancar.

Ujicoba akhirnya berakhir 30 menit kemudian. Dengan kesepakatan: Senin akan bertemu. Di kantor saya: Tebet, Jakarta Selatan.

Sabtu pagi, mendadak Pak Lambang mengirim pesan. ‘’Apa bisa saya ke kantor Tebet hari ini?’’ tanyanya.

Bujug buneng… Kok tidak sabar sih menunggu Senin? Kata saya dalam hati. Kebetulan, saya akan ke kantor Tebet. Berjaga-jaga kalau Pak Sonhadji jadi menjual sepeda motornya: Honda Beat tahun 2014. Yang mendongkrok di garasi rumahnya.

Lepas dzuhur, saya tiba di kantor Tebet. Pak Lambang menyusul 10 menit kemudian. Naik motor Scoopy. Sambul membawa 6 dus ayam goreng. ‘’Titipan istri saya untuk teman-teman yang kerja di Tebet,’’ katanya.

Sambil berdiskusi tentang seluk-beluk dan prospek bisnis video conference, saya seduhkan kopi Arabica Gayo Sipirok dengan kukusan bambu produksi Ciburial. Tiga jenis kopi saya hidangkan berturutan. Setelah kopi Situnggaling, saya seduhkan lagi kopi Pandoloan. Terakhir: kopi luwak liar. ‘’Di Frankfurt, harga kopi luwak ini Euro 39,95 per 100 gram,’’ jelas saya. Pak Lambang agak terkejut.

Sembari ngopi, Pak Lambang minta Mas Eddy membuka meeting online. Ia sudah tidak sabar. Ingin segera belajar.

Beberapa orang diundang bergabung. Ada Yekti Pitoyo dari Sidoarjo, Ikhwan dari Sragen dan Ferdi Herdi dari Makassar.

Saya mengambil alih kendali. Menjadi moderator diskusi. Membuat tema dadakan. Mereka sebagai panelis jarak jauh. Mas Eddy menjadi admin online. ‘’Pelajarannya sudah cukup. Sekarang bagaimana kita monetizing? Saya punya banyak kenalan para pembicara bagus,’’ kata Pak Lambang yang asli Blora, Jawa Tengah itu.

‘’Bikin program sedekah motivasi. Untuk fundraising,’’ jawab saya. Spontan. Mata Pak Lambang tiba-tiba melotot. Saking tertariknya. ‘’Bagaimana idenya?’’ tanyanya.

‘’Ajak para pembicara membagi ilmu pengetahuan dan pengalaman secara gratis melalui platform webinar yang dikelola Lazismu Kantor Layanan Manggarai. Jual tiket webinarnya kepada publik sebagai donasi. Itulah model sedekahnya,’’ jawab saya.

‘’Benerrrr bangeettt….’’ kata Pak Lambang dengan nada setengah berteriak. ‘’Kita coba untuk realisasikan,’’ jawabnya.

Saya mencoba mengerem. Takut kebablasan. ‘’Kita perlancar dulu. Bikin diskusi dengan kawan-kawan dulu. Sampai lancer. Karena banyak hal teknis yang perlu diketahui,’’ jelas saya.

Pak Lambang setuju. Senin besok, Pak Lambang akan membuat ujicoba webinar. Mengundang semua pengurus dan eksekutif Lazismu untuk ngobrol online. Temanya dipilih yang ringan-ringan saja: Fenomena Uang Digital.

Tema ini dipilih, karena adanya fakta: Platform crowd funding sudah mengalahkan lembaga amil zakat dalam pengumpulan dana sosial keagamaan. Hal itu menandakan, semangat filantropi sudah tumbuh di kalangan milenials. Tetapi metode berdonasinya sudah berubah. Karena teknologi.

Era digital memang telah datang. Hanya yang cepat berubah yang bakal menang. Sudah banyak contoh: Yang besar tetapi lamban akhirnya tumbang!(jto)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...