SI SET-SET-WET DI ERA DIGITAL


Ujicoba akhirnya berakhir 30 menit kemudian. Dengan kesepakatan: Senin akan bertemu. Di kantor saya: Tebet, Jakarta Selatan.Sabtu pagi, mendadak Pak Lambang mengirim pesan. ‘’Apa bisa saya ke kantor Tebet hari ini?’’ tanyanya.Bujug buneng… Kok tidak sabar sih menunggu Senin? Kata saya dalam hati. Kebetulan, saya akan ke kantor Tebet. Berjaga-jaga kalau Pak Sonhadji jadi menjual sepeda motornya: Honda Beat tahun 2014. Yang mendongkrok di garasi rumahnya.Lepas dzuhur, saya tiba di kantor Tebet. Pak Lambang menyusul 10 menit kemudian. Naik motor Scoopy. Sambul membawa 6 dus ayam goreng. ‘’Titipan istri saya untuk teman-teman yang kerja di Tebet,’’ katanya.Sambil berdiskusi tentang seluk-beluk dan prospek bisnis video conference, saya seduhkan kopi Arabica Gayo Sipirok dengan kukusan bambu produksi Ciburial. Tiga jenis kopi saya hidangkan berturutan. Setelah kopi Situnggaling, saya seduhkan lagi kopi Pandoloan. Terakhir: kopi luwak liar. ‘’Di Frankfurt, harga kopi luwak ini Euro 39,95 per 100 gram,’’ jelas saya. Pak Lambang agak terkejut.Sembari ngopi, Pak Lambang minta Mas Eddy membuka meeting online. Ia sudah tidak sabar. Ingin segera belajar.Beberapa orang diundang bergabung. Ada Yekti Pitoyo dari Sidoarjo, Ikhwan dari Sragen dan Ferdi Herdi dari Makassar.Saya mengambil alih kendali. Menjadi moderator diskusi. Membuat tema dadakan. Mereka sebagai panelis jarak jauh. Mas Eddy menjadi admin online. ‘’Pelajarannya sudah cukup. Sekarang bagaimana kita monetizing? Saya punya banyak kenalan para pembicara bagus,’’ kata Pak Lambang yang asli Blora, Jawa Tengah itu.

KONTEN BERSPONSOR

loading...

Komentar

Loading...