Kenali Faktor, Gejala dan Penanganan DBD

Rabu, 30 Januari 2019 - 18:54 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Demam Berdarah Dengue (DBD) banyak dijumpai terutama di daerah tropis dan sering menimbulkan kejadian luar biasa (KLB). DBD disebabkan virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid memaparkan, beberapa faktor yang mempengaruhi munculnya DBD antara lain rendahnya status kekebalan kelompok masyarakat, kepadatan populasi nyamuk penular.

Karena banyaknya tempat perindukan nyamuk yang biasanya terjadi pada musim penghujan dimana banyak timbul genangan-genangan air di sekitar pemukiman seperti talang air, ban bekas, kaleng, botol, plastik, gelas bekas air mineral, lubang pohon, pelepah daun dan Iain-lain.

“Jadi ada satu daerah yang kita kunjungi itu ternyata sumber utamanya adalah dia pengumpul botol-botol bekas. Sayangnya botol-botol bekas itu ditaruh di halaman rumah kalau sudah banyak baru di pul ke pengepul. Itulah yang kemudian karena terbuka nyamuknya masuk bertelur. Disitu banyak sekali perindukan nyamuknya,” jelas dr. Nadia saat ditemui di Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Jakarta, Rabu (30/1).

“Kita buang hampir 50 atau 60, begitu kita buang itu turun cepat sekali kasus DBD-nya,” lanjut Nadia.

Lebih lanjut Nadia mamparkan bahwa gejala awal demam berdarah dengue antara lain demam tinggi mendadak berlangsung sepanjang hari, nyeri kepala, nyeri saat menggerakan bola mata dan nyeri punggung, kadang disertai adanya tanda-tanda perdarahan.

“Pada kasus yang Iebih berat dapat menimbulkan nyeri ulu hati, perdarahan saluran cerna, syok, hingga kematian. Masa inkubasi demam berdarah 3 hingga 14 hari tetapi pada umumnya 4 hingga 7 hari,” jelasnya.

Beberapa upaya pertolongan awal terhadap penderita dapat dilakukan antara lain istirahat (bedrest), perbanyak asupan cairan/banyak minum sekurangnya 2 liter per hari, kompres hangat. “Bila demam tinggi dapat diberikan obat pereda demam (antipiretik) seperti parasetamol,” ujar Nadia.

Bila 2 – 3 hari gejala semakin memburuk seperti pasien tampak makin Iemas, muntah-muntah, gelisah atau timbul pendarahan spontan seperti mimisan, perdarahan gusi, perdarahan saluran cerna dan Iain sebagainya. Diharapkan agar segera dibawa ke rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan setempat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Ada dua keuntungannya, pertama kita cepat mendapatkan pertolongan. Yang kedua adalah dengan ditemukannya kasus DBD maka Puskesmas setempat akan melakukan penyelidikan epidemiologi kemudian mencoba melokalisir dengan mengidentivikasi dimana ada perindukan atau tempat-tempat nyamuk berkembang biak dan membagikan abate atau larvasida bahkan melakukan fogging,” jelasnya.

Dalam rangka mengantisipasi terjadinya peningkatan kasus DBD pada akhir tahun 2018 dan awal tahun 2019 ini, Pemerintah dalam hal ini Kemenkes telah menghimbau kepada seluruh jajaran pemerintah daerah melalui surat edaran Menteri Kesehatan RI nomor PV.02.01/Menkes/721/2018 tanggal 22 November 2018 perihal Kesiapsiagaan Peningkatan Kasus DBD Dalam surat tersebut Menteri Kesehatan menghimbau pemerintah daerah untuk:

1. Meningkatkan upaya penggerakan masyarakat dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui kegiatan menguras, menutup dan memanfaatkan kembali barang bekas, plus mencegah gigitan nyamuk (3M plus), dengan cara mengimplementasikan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).

2. Meningkatkan surveilans kasus dan surveilans faktor risiko terhadap kejadian demam berdarah dengue, diantaranya melalui kegiatan Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dan mengaktifkan Juru Pemantau Jentik (Jumantik).

3. Mengaktifkan kembali Kelompok Kerja Operasional penanggulangan DBD (Pokjanad DBD) pada berbagai tingkatan RT/RW, desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten/kota dan provinsi.

4. Meningkatkan kapasitas sumber daya pencegahan dan pengendalian DBD, meIiputi peningkatan kapasitas SDM, biaya serta bahan dan peralatan.

5. Menerbitkan Surat Edaran Gubernur kepada Bupati/Walikota dalam rangka kesiapsiagaan peningkatan kasus DBD.

Selain memberikan peringatan lewat surat edaran ke daerah-daerah, Kemenkes juga telah menambah bantuan logistik untuk menanggulangi penularan DBD yang terjadi terutama daerah berstatus Kejadian Luar Biasa (KLB).

“Kita juga menambah logistik di daerah-daerah. Bila kita lihat terjadi kecenderungan penambahan kasus bahkan kita juga sudah mengirim beberapa kali logistik yang diperlukan terutama di daerah darara KLB,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Nadia, Kemenkes sudah mengadakan Posko Kewaspadaan DBD melalui Public Health Emergency Operations Centre (PHEOC) beroperasi 24 jam.

“Kalau di DKI ada survey sehingga kita bisa verifikasi, kita bisa langsung feedback dan kita langsung ambil tindakan. Kalau memang kita lihat terjadi kecendrungan penambahan kasus yang cukup signifikan,” terangnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.