Di Jepang, 30 Ribu Lansia Meninggal dalam Kesendirian

Minggu, 3 Februari 2019 - 17:45 WIB

FAJAR.CO.ID – Ruangan lembab, bungkus mi instan kosong, dan futon (alas tidur khas Jepang) berbau busuk atau penuh belatung adalah pemandangan biasa bagi Akira Fujita. Dia adalah kru Next, perusahaan yang khusus melayani jasa bersih-bersih ruangan bekas orang meninggal. Tepatnya, mereka yang meninggal dalam kesendirian dan baru ditemukan beberapa hari atau beberapa bulan kemudian. A lonely death.

Sebenarnya tidak hanya di Jepang. Di banyak negara, kasus serupa sering terjadi. Tapi, angkanya tinggi di Jepang. Mengutip hasil survei NLI Research Intitute, Washington Post melaporkan bahwa per tahunnya ada sekitar 30 ribu orang yang meninggal dalam kesendirian di Jepang. Mereka mayoritas adalah warga lanjut usia.

Persentase angka lansia di Jepang memang tertinggi di dunia. Angka harapan hidup di negara itu juga tinggi. Yakni, 85 tahun. Negara tersebut bahkan memiliki 69.785 centenarian atau kelompok masyarakat yang usianya 100 tahun atau lebih.

Sebagian besar lansia di Jepang tinggal sendirian. Demikian pula saat mereka menemui ajal. Jangankan menemani, keluarga dan kerabat mungkin juga tidak pernah tahu bahwa si lansia sudah meninggal dunia.

Hiroaki, misalnya. Pria itu meninggal di apartemen yang dia sewa di kawasan Kawasaki, Prefektur Kanagawa. Dia diperkirakan meninggal selama 4 bulan saat jasadnya ditemukan pada akhir Januari lalu. “Ini ada di angka 4 di antara 10,” ujar Fujita memperkirakan tingkat keparahan kondisi ruangan dan jenazah.

Jenazah orang-orang yang meninggal sendirian itu lama ditemukan karena mereka jauh dari saudara ataupun anak-anaknya. Pun, tak ada tamu yang berkunjung.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.