Februari Diprediksi Puncak Musim Hujan, Ini Imbauan Penting BMKG

Minggu, 3 Februari 2019 - 14:08 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat mewaspadai cuaca ekstrem sepanjang Februari. Berdasar data BMKG, curah hujan bulan ini cukup tinggi. Bahkan diprediksi merupakan puncak musim hujan.

“Termasuk gelombang tinggi,” ujar Kepala BMKG Dwikorita Karnawati melalui keterangan tertulis yang diterima, Minggu (3/2).

Dwi mengingatkan potensi bencana yang suatu saat bisa melanda wilayah Indonesia. Di antaranya banjir dan longsor.

“Waspada potensi genangan, banjir maupun longsor bagi yang tinggal di wilayah berpotensi hujan lebat. Terutama di daerah rawan banjir dan longsor,” ujarnya.

Selain itu, angin kencang serta kilat dan petir juga akan datang bersamaan hujan lebat. “Waspada terhadap kemungkinan hujan disertai angin yang dapat menyebabkan pohon maupun baliho tumbang atau roboh. Tidak berlindung di bawah pohon jika hujan disertai kilat atau petir,” tutur dia.

Begitu pula dengan gelombang tinggi kisaran 2,5-4 meter juga akan menerjang beberapa perairan, terutama di Samudra Hindia Selatan Jawa Timur hingga NTB. “Perhatikan risiko gelombang tinggi terhadap keselamatan pelayaran dan aktivitas di pesisir,” tegas Dwi.

BMKG menganalisis, saat ini El Nino Southern Oscillation (ENSO) berstatus lemah dan Indian Ocean Dipole (IOD) berstatus netral. Kendati begitu, tidak cukup signifikan mengurangi pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

Sementara itu, Madden Julian Oscillation (MJO) fase kering diperkirakan akan aktif dan kurang berkontribusi pada pembentukan awan. Khususnya di wilayah Indonesia bagian barat hingga dua minggu ke depan.

“Nilai Anomali Suhu Muka Laut di sebagian wilayah perairan Indonesia selama bulan Februari diperkirakan lebih hangat dari normalnya, kondisi ini cukup berkontribusi terhadap penambahan suplai uap air di wilayah Indonesia,” paparnya.

Terakhir, Dwi juga menuturkan bahwa sirkulasi tekanan rendah di wilayah Australia bagian utara mengakibatkan terbentuknya daerah pertemuan angin di sekitar Maluku dan Papua yang mengakibatkan peningkatan potensi pembentukan awan hujan.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.