Bunker Narkoba di Tengah Laut, Polri Gaet 3 Negara

Senin, 4 Februari 2019 - 17:42 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sindikat narkoba asal Tiongkok dan Taiwan masih menjadikan laut sebagai jalur utama pengiriman. Mereka membawa barang haram itu dari kapal ke kapal hingga mendarat ke negara yang dituju.

“Digunakan kapal ikan besar, mother ship, dijadikan bunker di tengah laut. Bunker ini bisa diambil di Myanmar, berhenti di Penang atau Johor. ketika ada pemesan dia tinggal berikan titik koordinat,” ujar Direktur Tindak Pidana Narkoba Brigjen Eko Daniyanto di kantornya, Senin (4/1).

Dia menerangkan, banyak jalur tikus mulai dari Sabang sampai Sumatera Utara. Diharapkan kerja sama dengan seluruh Polres ditingkatkan.

Mereka bakal mengajak Direktur Narkoba, Kaepala Satuan Namun, Kepala Satuan Binmas untuk melaksanakan sosialisasi dan menggalang masyarakat nelayan di masing-masing kabupaten.

“Untuk meningkatkan pencegahan secara dini. Karena begitu luasnya seluruh rute,” tutur dia.

Eko berencana pada Maret mendatang pihaknya akan berangkat ke Penang, Malaysia untuk menjalin kerja sama terkait penangkapan narkoba di tengah laut. Kerja sama itu antara Indonesia, Malaysia, Myanmar, dan Australia.

“Ada empat negara. Kita akan laksanakan join operasional di laut. Karena di tengah laut kita tidak bisa penegakkan hukum,” ungkapnya.

Sementara itu, dia menerangkan bahwa pada Januari lalu pihaknya berhasil membongkar sindikat Malaysia-Aceh- Medan yang mengedarkan narkoba jenis sabu di Indonesia. Barang haram seberat 16 kg itu diambil di laut perbatasan Malaysia-Indonesia.

Enam orang dijadikan tersangka atas kasus ini. Diantaranya, APS (54), EF (51), JND (43), SYL (41), HS (30), dan AH (47). Sementara dua orang lagi, ABG dan RHM masih buron.

Adapun keenam tersangka dijerat dengan pasal primer. Yakni pasal 114 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman hukumannya pidana mati, penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 6 tahun dan paling lama 20 tahun penjara, serta denda Rp. 1 miliar-10 miliar.

Juga pasal sekunder, pasal 112 ayat 2 juncto pasal 132 ayat 2 UU Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman penjara seumur hidup atau paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun. Lalu denda minimal Rp 800 juta dan maksimal Rp 8 miliar.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.