Bupati Gowa Coba Tertibkan Pendaki ‘Nakal’ Lewat Perda, Ini Tanggapan Mapala se-Indonesia

Senin, 4 Februari 2019 16:09

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sehubung dengan pernyataan Bupati Gowa, untuk membuat Peraturan Daerah (Perda) yang merujuk dengan standar operasional prosedur (SOP) terkait pendaki agar tidak merusak alam saat melakukan pendakian di Gunung Bawakaraeng, mendapat respon dari Ketua PKN Mapala se-Indonesia.Ketua Pusat Koordinasi Nasional Mapala se-Indonesia, Ade Erlangga S, menyuarakan bentuk dukungannya. Karena menurutnya selama ini Gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompo Battang sudah dipenuhi sampah dari para pendaki.”Saya sebagai Ketua Pusat Koordinasi Nasional Mapala Se-Indonesia, sepakat dengan pernyataan Bupati Gowa karena dengan melihat kondisi fisik gunung Bawakaraeng dan Gunung Lompo Battang begitu sangat miris,” ungkapnya, Sanin (4/2/19).”Karena setiap saya mendaki Gunung Bawakaraeng dalam tugas SAR bersama Basarnas, baik untuk pencarian atau pun evakuasi korban, melawati jalur di Lembanna maka setiap pos menuju puncak gunung tersebut terlihat begitu banyak sampah pendaki yang berupa plastik, kaleng dan botol,” tambah Ade.Tidak hanya itu, ia juga mengungkap banyaknya pohon yang dirusak pendaki saat akan mendirikan tenda. Selain itu, salah satu penyebabnya diantaranya banyaknya paku penanda disetiap pos di kawasan Gunung Bawakaraeng.”Kemudian banyaknya pohon-pohon di sekitar jalur pendakian tersebut rusak akibat ulah pendaki yang menebang pohon sebagai patok tenda dan sebagainya serta pohon-pohon yang dipaku untuk memasang penanda setiap pos,” ungkapnya.Ia juga mengungkap, tidak hanya di jalur Lembanna saja yang rusak, akan tetapi hampir di setiap jalur pendakian Gunung Bawakaraeng dan Lompo Battang. Sehingga, Ade Airlangga, sepakat dengan pernyataan Bupati Gowa bahwa yang menjadi penyebab kerusakan alam sekitar Gunung Bawakaraeng dan Lompo battang adalah ulah pendaki yang tidak tahu aturan.

Komentar