Pasca Insiden Tewasnya Aldama, Orang Tua Taruna Cemas

Rabu, 6 Februari 2019 - 18:47 WIB

FAJAR.CO.ID, MAROS — Pasca insiden tewasnya Taruna Akademi Teknik Keselamatan dan Penerbangan (ATKP), Aldama Putra Pongkala (19) ditangan seniornya membuat sejumlah orang tua taruna cemas.

Terbukti dengan kehadiran sejumlah orang tua taruna di pemakaman Aldama Putra Pongkala (19) di Tempat Pemakaman TNI AU, Padangalla, Kelurahan Hasanuddin, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Rabu,6 Februari.

Bahkan orang tua taruna dari Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug juga ikut dalam pemakaman Aldama Putra sekaligus menyampaikan kecemasannya kepada Ketua STPI yang menyempatkan terbang dari Jakarta ke Makassar.

Salah satu orang tua, Siti Khadija mengaku sengaja hadir untuk menemui langsung pihak STPI agar bisa diberikan kepastian tidak adanya kejadian serupa yang menimpa taruna tingkat satu ATKP Makassar.

“Karena adanya kejadian seperti ini kita sebagai orang tua merasa was-was, takut kalau ada kejadian juga nanti di sana. Kebetulan kita punya anak lagi ada di sana
di STPI juga,” katanya usai pemakaman Aldama Putra.

Diakuinya, sebagai orang tua yang melihat kejadian itu, tidak menginginkan kekerasan senior terhadap junior terjadi di sekolah akademi manapun.

“Alhamdulillah, kita juga ketemu dengan pak Novy tadi, menyampaikan unek-unek kita, bahwasanya bagaimana dengan anak-anak kita di sana. Mudah-mudahan kejadian di sini tidak terulang di sana. Yah namanya taruna, begitu dia dengan seniornya memang kan ada senioritas. jadi sebelum ada kejadian kita terlebih dahulu menyampaikan hal ini,” akunya.

Menanggapi hal itu, Ketua STPI Curug, Capt Novyanto Widadi pun berusaha meyakinkan orang tua para taruna STPI Curug dengan sistem yang telah diterapkan dapat memitigasi hal-hal yang tidak perlu terjadi.

“Kecemasan orang tua itu sangat wajar, apalagi dengan ada kejadian seperti ini,” katanya

Apalagi menurut dia, ini merupakan kejadian yang sangat fatal.

“Menurut saya ini kejadian yang sangat fatal, artinya semua itu bisa dikomunikasikan baik senior maupun junior, kalau sudah bisa dikomunikasikan, bagaiamana formula komunikasinya,”akunya.

Dia mengatakan pola pengasuhan yang telah diterapkan di STPI sudah sangat dapat merubah karakter taruna yang lebih kepada melaporkan kegiatan yang janggal.

“Saya yakin ketika terjadi tindakan itu ada yang melihat, tetapi yang melihat kenapa tidak melapor. Intinya ada karakter yang keliru, karena untuk merubah karakter itu perlu sistem, perlu tools, nah yang kami promosikan adalah, safety management system, yang intinya reporting atau pelaporan,” jelasnya.

Lebih lanjut kata dia, sebagai Ketua STPI yang bernaung dibawah Kementerian Perhubungan Republik Indonesia (Kemenhub RI), pihaknya akan menularkan pola asuh Saftey Managemen System (SMS).

“Jadi ini kami diperintahkan pimpinan dalam hal ini Menteri Perhubungan dan sekolah badan sumber daya manusia untuk menularkan safety management sistem ini menjadi pola asuh di ATKP Makassar. Dan kenyataannya setelah 2017 kita menggunakan hal ini untuk reporting, kejadian lucu itu ada. Dimana ketika senior menindak junior, yang lapor itu bukan junior tapi senior, artinya kepedulian itu ada,” jelasnya. (rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *