Taruna ATKP Makassar Dibunuh Senior Karena Cemburu?

Kamis, 7 Februari 2019 - 10:01 WIB

FAJAR.CO.ID, Makassar — Aldama Putra Pongkala (19) sudah pergi untuk selama-lamanya. Namun,

masih ada kecurigaan terkait kematiannya. Keluarga curiga ada motif asmara di baliknya.

Polisi memang telah menetapkan tersangka kasus kematian taruna baru Akademi Teknik Keselamatan Penerbangan (ATKP) Makassar itu. Tidak lain senior Aldama sendiri, Muhammad Rusdi

Keluarga awalnya menerima informasi dari pihak kampus ATKP bahwa Aldama terjatuh di toilet asrama. Namun, penyelidikan polisi dengan memeriksa 22 saksi, mengungkap penyebab kematian karena dianiaya.

Pengakuan tersangka Rusdi kepada polisi, motif kekerasan yang dilakukannya karena alasan korban tidak mengenakan helm.

Namun, keluarga Aldama tak lantas percaya begitu saja pada pengakuan tersangka. Ada kecurigaan, penganiayaan bermotif cemburu.

Kecurigaan itu berdasar informasi yang diperoleh keluarga korban bahwa salah seorang senior perempuan di ATKP sering menghubungi Aldama. “Ada saya dengar, senior perempuan senang sama anak saya. Sering hubungi Dama. Ini laki-laki (pelaku, red) mungkin cemburu. Makanya ada indikasi ke situ,” ucap ayah Aldama, Pelda Daniel Pongkala di kediamannya usai upacara pemakaman anaknya, Rabu, 6 Februari.

Kecurigaan Daniel senada ucapan Arman, salah seorang sahabat Aldama. Arman mengungkapkan, Aldama pernah satu waktu tidak ingin diganggu lantaran menerima pesan dari senior di kampusnya. “Ada senior perempuan saya hubungi. Jangan ko gangguka,” ucap Arman menirukan perkataan Aldama.

Namun, Arman tak mengetahui persis identitas perempuan yang menjadi teman chatting Aldama di aplikasi pesan singkat. Dama juga tidak pernah menceritakan sosok perempuan itu.

“Terakhir kali ketemu waktu bermalam di rumah. Dia (Aldama, red), tidak lagi menceritakan itu (perempuan). Dama hanya menceritakan kalau sering dipukuli seniornya,” ungkap Arman saat ditemui di pemakaman.

Teka-teki Helm

Ayah Aldama, Daniel Pongkala mengaku mengantar anaknya ke ATKP Makassar hingga gerbang kampus. Dia tidak sampai ke dalam wilayah kampus.

Terkait alasan helm yang menjadi dalih tersangka, Daniel mengakui anaknya tidak mengenakan helm saat diantar ke kampus ATKP. “Memang saya larang menggunakan helm, karena setelah mengantar Dama, saya mau lanjut latihan,” akunya.

Meski demikian, Daniel tidak terima jika gara-gara tidak mengenakan helm sampai senior menganiaya putra semata wayangnya hingga tewas. Cukup dibina saja.

Menurutnya, polisi saja yang berhak menegur, tidak sampai menganiaya hingga tewas. “Ini kok dipukul sampai mati. Dia (pelaku) tidak ada hak di situ. Hanya boleh menegur saja,” sebutnya.

Daniel juga mencurigai bukan hanya satu orang yang menganiaya. Dia menduga peristiwa penganiayaan anaknya disaksikan banyak taruna lain. Hanya, semua taruna sudah tertutup.

“Saya yakin bukan satu orang saja pukuli. Soalnya memar di badannya banyak sekali. Harapan kami, pihak kepolisian mengusut setuntas-tuntasnya. Bila terbukti bersalah, harus dikasih ganjaran seberat-beratnya,” harapnya.

Investigasi

Direktur Utama ATKP Makassar, Agus Susanto menuturkan, tidak ada kegiatan kampus saat kejadian, Minggu, 3 Februari. Hari itu, taruna kembali ke kampus usai libur akhir pekan.

Pada hari perkuliahan, aktivitas belajar di kampus hingga pukul 16.00 Wita. Jika ada kegiatan ekstrakurikuker, harus berakhir pukul 18.00 Wita.

“Antara pukul 22.00 hingga 23.00 acara persiapan untuk kegiatan esok. Termasuk persiapan buku-bukunya. Pukul 23.00 Wita, tidak boleh ada kegiatan,” kata Agus.

Menurutnya, taruna membawa buku saku di kantong masing-masing. Buku pedoman berisi hal yang boleh dan tidak boleh dilakukan itu harus dibawa setiap hari.

Agus menambahkan, pihaknya telah membentuk tim investigasi terkait kematian taruna Aldama. Tim akan menelusuri apakah sesuai prosedur internal atau belum.

(gun-rin/rif-zuk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.