Monkey Forest Bakal Jadi Wisata Unggulan di Kawasan Danau Toba

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SIMALUNGUN – Pernah melihat monyet-monyet turun ke jalan menuju Prapat, Kabupaten Simalungun? Ternyata semua monyet-monyet itu berasal dari Monkey Forest Sibaganding.

Diprediksi, Monkey Forest yang masuk menjadi salah satu geosite di Danau Toba itu, menjadi wisata unggulan. Karena memang potensinya cukup tinggi.

Jika datang sekarang, kondisinya memang sedikit memprihatinkan. Tidak tertata dengan apik seperti Monkey Forestdi Ubud, Bali.

Nama Monkey Forest memang tidak sepopuler tempat wisata lain sekelas batu gantung, Tomok di Samosir atau pun Air terjun Sipiso-piso di Karo. Padahal usianya sudah cukup tua. Sudah ada sejak era 1980-an.

Kementerian Pariwisata lewat Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) berencana akan kembali mempopulerkanMonkey Forest ini. Kawasan ini juga menjadi fokus pembangunan kawasan akan direvitalisasi. “Akan kita re-branding. Masuk dalam program tahun ini. Master plan-nya sudah ada,” ujar Direktur Utama BPODT Arie Prasetyo, Minggu (10/2).

Menurutnya, saat ini kementerian terus menggenjot pembangunan di Danau Toba. Apalagi sudah masuk menjadi satu dari sepuluh Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN).

Pembangunannya mulai dari fisik hingga sistem tata kelola lokasi wisata. Keduanya perlu dilakukan secara beriringan sehingga begitu pembangunan fisik selesai, lokasi tersebut sudah memiliki sistem manajemen pengelolaan dan dapat langsung menerima kunjungan wisatawan.

Terkait dengan pembangunan fisik, BPODT sepertinya tidak terlalu menemui kendala. Meski Arie belum dapat merinci jumlah alokasi dana yang tersedia, tetapi dia memastikan bahwa kebutuhan biaya untuk pembangunan fisiknya sudah dianggarkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Perhatian lebih besar lebih dibutuhkan dalam pembuatan sistem manajemen pengelolaan yang dapat menjamin keberlangsungan lokasi wisata tersebut. Dalam hal ini, selain KLHK, BPODT serta pihak keluarga yang mendiami lokasi itu, Arie meyakini cara terbaik adalah dengan ikut melibatkan Pemprov Sumut dan Pemkab Simalungun.

“Tinggal bagaimana mencari formulasi yang tepat untuk membatasi tugas dan fungsi masing-masing pihak,” ujarnya.

Wisata atraktif memang perlu terus dikembangkan di kawasan Danau Toba. Karena memang itu yang dinilai masih minim. Bila dikemas dengan baik monkey forest bisa menjadi lokasi wisata atraktif tanpa membutuhkan biaya pengembangan yang besar.

Parapat Monkey Forest dapat meniru Mandala Suci Wenara Wana atau Monkey Forest Ubud. Sebuah tempat cagar alam dan kompleks candi di desa Padangtegal Ubud, Bali, yang mempunyai kurang lebih 749 ekor monyet ekor panjang.

Di Ubud, manajemennya sudah terbilang bagus. Sehingga masyarakat juga yang menerima dampak ekonominya. Mulai dari tiket masuk, penjualan suvenir, hingga biaya pemeliharaan fasilitas semuanya bisa ditanggulangi.

Parapat Monkey Forest sebenarnya didiami jumlah monyet jauh lebih banyak dari di Ubud. KLHK mencatat tempat itu menjadi kawasan bernaung 13 kelompok Kera, Beruk dan Siamang. Satu kelompok terdiri dari sekitar 100 ekor dan di dalam setiap kelompok terdapat 5 ekor babon (induk) atau sebagai pemimpin kelompok.

Ketika pengunjung datang langsung dimanjakan dengan suasana hutan lindung yang masih sangat asri. Udaranya begitu segar.

Lalu seorang pawang meniup sebuah terompet dari tanduk kerbau. Tujuannya memanggil monyet-monyet yang ada di hutan.

Selang sesaat, kelompok beruk datang. Sang pawang dan pengunjung bisa memberi makan dengan kacang atau pun pisang yang sudah disediakan. Lalu sang pawang kembali meniup terompet. Memanggil kawanan kera berekor panjang.

Ini yang bisa menjadi atraksi sekaligus edukasi. Langkah pelestarian monkey forest ini juga mengurangi populasi monyet yang turun ke jalan.

(JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...