Strong Voters Jokowi Belum Aman

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA, JAKARTA – Survei Celebes Research Center atau CRC menyatakan bahwa strong voters pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomor urut 01 Joko Widodo – KH Ma’aruf Amin atau Jokowi – Kiai Ma’ruf masih belum aman.

Survei menemukan bahwa 81,0 persen responden menyatakan kecil atau hampir tidak mungkin mengubah pilihannya. Hanya 13,0 persen responden menyatakan cukup besar kemungkinan untuk mengubah pilihan. Sedangkan 6,0 persen menjawab tidak tahu.

Direktur Eksekutif CRC Herman Heizer menjelaskan strong voters Jokowi – Kiai Ma’ruf tidak terlalu aman di posisi 48,8 persen. Menurut dia, masih ada 7,3 persen yang kemungkinan akan mengubah pilihan.

Sedangkan strong voters pasangan capres dan cawapres nomor urut 02, Prabowo Subianto – Sandiaga Uno berada pada posisi 27,3 persen. Masih ada 4,4 persen responden yang menyatakan cukup besar kemungkinan mengubah pilihan.

“Jadi, strong voters Jokowi tidak terlalu aman,” tegas Herman saat paparan hasil survei CRC di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (10/2).

Survei ini melibatkan 1200 responden, dengan metode multistage random sampling, margin of error 2,83 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen. Pengumpulan data dilakukan dengan metode wawancara tatap muka langsung menggunakan kuisioner oleh pewawancara. Waktu wawancara lapangan 23-31 Januari 2019.

Quality control terhadap hasil wawancara dilakukan secara random sebesar 20 persen dari total sampel oleh supervisor dengan kembali mendatangi responden terpilih. Temuan survei ini menyatakan sebanyak 87,8 persen responden memilih pasangan capres dan cawapres. Dari jumlah itu, yang memilih Jokowi – Kiai Ma’ruf 56,1 persen, Prabowo – Sandi 31,7 persen. Sedangkan 12,2 persen menyatakan tidak tahu.

Lebih lanjut Herman menjelaskan, tren strong voters Jokowi – Kiai Ma’ruf dari September 2018 – Januari 2019 hanya mengalami sedikit kenaikan yakni 48,2 persen menjadi 48,8 persen. Pun demikian dengan pasangan Prabowo – Sandi, mengalami sedikit kenaikan dari 26,8 persen menjadi 27,3 persen.

Dalam survei ditemukan bahwa 13,0 persen responden yang menyatakan cukup besar kemungkian mengubah pilihan. Dari jumlah itu, 40,4 persen di antaranya menyatakan akan mengubah piihan jika ada calon yang menawarkan program yang lebih baik. Kemudian 10,3 persen akan mengubah pilihan jika ada calon yang terkena masalah hukum.

Sedangkan 6,6 persen menyatakan kemungkinan mengubah pilihan jika ada calon yang melakukan serangan fajar. Sedangkan 5,1 persen menyatakan jika ada calon yang turun langsung ke desa atau kelurahannya, 2,9 persen beralasan jika organisasi yang diikutinya merekomendasikan calon lain.

Sebanyak 2,2 persen menyatakan berubah jika ada tokoh yang mengajak untuk memilih calon lain. Sedangkan alasan lainnya sebesar 5,9 persen.Yang tidak tahu atau tak menjawab 26,5 persen.

Dari 87,8 persen responden yang menyatakan memilih presiden, 21,1 persen di antaranya memberikan pilihan dengan alasan utama karena sudah terbukti kinerja atau prestasi sang calon. Sedangkan 14,5 persen memilih dengan alasan sang calon membawa harapan baru. Sebanyak 12,7 persen responden memilih dengan alasan orangnya sederhana dan merakyat. Yang memilih dengan alasan suka kepribadian calon 6,1 persen, menyukai program yang ditawarkan 3,1 persen.

Sedangkan yang memilih paslon dengan alasan utama karena sudah terbukti kinerja atau prestasinya, Jokowi – Kiai Ma’ruf Amin meraih 31,7 persen, sedangkan Prabowo – Sandi 2,4 persen. Kendati demikian Prabowo – Sandi unggul pada alasan membawa harapan baru yakni 36,7 persen. Sedangkan Jokowi – Kiai Ma’ruf hanya 1,0 persen.(boy/jpnn)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...