Klarifikasi Petani Semprot Mati Lahan Cabai: Tanamannya Sudah Tua dan Masuk Musim Tanam Semangka


Beberapa pekan terakhir harga aneka cabai di beberapa sentra produksi mengalami perubahan karena pasokan yang melimpah. Tingginya biaya ekspedisi cargo pesawat udara menyebabkan distribusi cabai antar pulau terkendala.Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementerian Pertanian, Moh Ismail Wahab menyikapi kondisi saat ini dan kebutuhan di masing-masing wilayah, maka pola tanam juga kita jaga sesuai kebutuhan dan permintaan.”Jadi kalau memang sudah ada pola tanam yang sudah ditetapkan, harus kita patuhi. Seperti yang terjadi di Kulonprogo kemarin, itu sudah saya cek betul, ternyata tanaman cabai yang disemprot dengan pembasmi gulma memang sudah melewati masa produktifnya alias sudah tua,” demikian dikatakan Ismail di Jakarta, Senin (11/2).Ismail menegaskan lahan pertanaman cabai tersebut akan dipakai untuk pertanaman semangka. Ini yang dinamakan pola tanam. “Jadi tolong jangan salah persepsi, justru ini seharusnya yang benar,” tegasnya.Saat dikonfirmasi, Sukarman, petani champion cabai di Kulonprogo yang diberitakan media bahwa dia mematikan tanaman cabai miliknya, membenarkan pernyataan Ismail dan membantah mematikan cabainya. Akan tetapi tanamannya memang sudah tidak produktif, sudah melewati panen puncak, sehingga sudah waktunya diganti tanaman lain.”Memang ada pemakaian semacam herbisida, tetapi itu saya lakukan semata mata untuk menghemat ongkos tenaga kerja. Jadi bukan karena saya dan para petani disini putus asa dengan harga murah, tapi skema pola tanamnya memang harus beralih dengan komoditas lain,” terangnya.

Komentar

Loading...