Tersangka Penganiaya Aldama Putra Diminta Buka Mulut

Selasa, 12 Februari 2019 - 08:46 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Orang tua almarhum taruna ATKP (Akademi Teknik dan Keselamatan Penerbangan) Aldama Putra Pangkola, yang tewas setelah dianiaya oleh seniornya, terus menuntut agar semua yang terlibat dalam pengeroyokan anaknya bisa diproses secara hukum. Sebab tidak adil rasanya jika hanya satu orang yang dihukum atas peristiwa ini.

Ayah korban, Pelda Daniel Pongkala mencurigai jika anaknya meninggal karena dikeroyok oleh seniornya. Kecurigaan itu didasari oleh banyaknya luka lebam di sekujur tubuh korban yang tidak mungkin hanya dilakukan satu orang.

“Kuat dugaan keluarga bukan satu orang saja. Yang sudah ditangkap satu orang silakan buka mulut,” jelasnya, kemarin.

Dia mendesak pelaku yang sudah diciduk aparat kepolisian atas nama
Muhammad Rusdi untuk tidak takut bersuara. Membongkar semua kejadian yang menewaskan putra semata wayangnya itu.

“Mereka memang bagus doktrinnya. Tradisi tutup mulutnya itu. Ungkapkan saja teman kamu. Siapa yang bantu kamu. Kamu kasihan sendiri dikambingkhitamkan,” ungkap Daniel.

Dia mengaku tidak akan berhenti berjuang hingga kasus ini tuntas, dan semua yang terlibat dalam pengeroyokan anaknya menanggung akibat dari perbuatannya.

Informasi lain yang dijelaskan Daniel, dirinya mendapat laporan dari sejumlah taruna dan taruni AKTP, jika praktik kekerasan di kampus tersebut sudah sering terjadi. Malah disebutkan ada salah seorang pembantu direktur (Pudir) ATKP yang juga ikut menganiaya taruna dan taruni di sana.

Diapun meminta kepada penyidik ikut memeriksa yang bersangkutan untuk mengetahui apakah terlibat dalam kasus kematian anaknya atau tidak. Pudir yang dimaksud adalah Pudir III ATKP Makassar atas nama Irfan.

Daniel mengungkapkan, sesuai informasi yang diperoleh, pudir itu pernah menganiaya seorang siswa perempuan (taruni) di depan seluruh siswa tingkat satu dan dua.
Dia menjelaskan, sedikit banyak aksi yang dipertontonkan Irfan itu dicontoh oleh tarunanya.

“Menurut informasi dari orang tua, seorang taruni pernah dianiaya langsung oleh pembinanya. Bahkan ada yang dikasih makan sabun. Taruni ditendang dari kaki hingga paha. Di kemiliteran saja tidak ada itu,” ungkapnya. Aksi itu sangat disayangkan terjadi di dunia pendidikan.

Bukan itu saja, dia berharap semua pengasuh dan pembina juga diperiksa semua. Alasannya, karena tidak mungkin taruna di sana mengambil tindakan kekerasan jika tidak ada contoh dari pembina dan pengasuhnya.

Selain menyerahkan persoalan ini kepada aparat kepolisian, keluarga korban juga menempuh jalur lain untuk menyuarakan kasus ini.

Dia mengadukannya ke pengacara kondang Hotman Paris Hutapea.  (rhm/bkm/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *