Tujuan Di Balik Pembakaran Motor oleh Ormas di Jawa Tengah

Selasa, 12 Februari 2019 - 05:59 WIB

Peristiwa bakar motor di Jawa Tengah ini motifnya kemungkinan besar adalah teror sosial, sebagai salah satu konten manajemen konflik yang berefek politik yang dilakukan oleh oknum salah satu kubu Capres-Cawapres. Karena ini adalah manajemen konflik, tentu ada konstruktor dibalik peristiwa ini.

Mentalitas salah satu kelompok politik dalam Pilpres kali ini sudah cukup terbaca sejak Pilpres 2014 lalu. Karena itu, pihak Polri sudah sejak lama dapat membaca kondisi mental kelompok dimaksud ini, dengan segala kemungkinan akan resiko sosial dan politik yang ditimbulkannya.

Apa motif konstruktor politik membentuk Ormas (tidak usa saya sebut nama Ormas itu). Saat menjelang Pilpres 2014 lalu, hal itu juga terbaca jelas oleh Polri. Karena itu, pada kesempatan yang hampir sama Polri tidak kalah cepat mengantisipasi dengan melakukan penangkapan dan mempidanakan orang pertama yang mendapatkan otoritas di Ormas itu, baik karena ada kasus pidana yang lain maupun karena arah gerakan konstruktor Ormas itu, dan para pengikut yang terlibat dalam Ormas itu sudah terbaca jelas oleh Polri.

Sekarang menjelang Pilpres 2019 ini, politik kotor konstruktor teror tetap diulangi lagi. Ini permainan dalam bentuk taktik-taktik politik biadab, dengan cara menciptakan teror sosial untuk tujuan memainkan psikologi masyarakat.

Terhadap signal-signal gerakan yang terbaca, tentu kita masih bersyukur lagi-lagi Polri cepat mengambil tindakan antisipatif sebelum niat-niat busuk kelompok itu tereskalasi dan mewarnai psikologi politik warga, yang berefek positif sebagai dukungan terhadap Capres kelompok itu.

Kasus pembakaran motor di jawa tengah ini adalah bagian kecil dari proses manajemen konflik oleh oknum dari kelompok politik tertentu, itu yang tidak lain dengan “tujuan antara” adalah:

1). Meneror masyarakat sehingga timbul ketakutan sosial di sana-sini menghadapi Pilpres.

2). Mencitakan obyek dalam bentuk fakta peristiwa untukk menjadi materi berita hoax oleh kalangan kelompok politik mereka itu sendiri.

3). Tindakan sengaja untuk menciptakan situasi sosial seakan-akan tidak aman dan tidak terkendali dengan harapan, berkembang efek domino secara alamiah di tengah masyarakat yang bisa menggerus wibawa pemerintah.

Sedangkan “tujuan akhir” atas teror bakar motor itu adalah:

1). Terciptanya efek domino (snowball effect) dari “tujuan antara” atas peristiwa itu.

2), Snowball itu berupa terciptanya citra buruk pada Lolri sebagai bagian dari prestasi buruk pemerintah.

3). Efek lain adalah tercitanya efek electoral berupa meningkatnya elektabilitas keterpilihan Capres tertentu.

4). Efek lain adalah bisa menjadi peredam dan pengerem terhadap power dinamika politik masyarakat yang cenderung semakin menguat ke Capres lain sebagai lawan politiknya.

Asumsi ini mendekati kebenaran karena Kostruktor utama teror politik ini, termasuk dalam peristiwa pembakaran motor ini adalah ahli dibidang teror. Teror ini adalah salah satu bentuk manajemen konflik yang tidak berjalan secara efektif, karena proses atas peristiwa dan jenis kasus yang dicitakan terbilang permainan kasar, karena motifnya di balik itu mudah terbaca oleh orang lain.

Tetapi saya sepakat dengan pendapat media, bahwa apapun bentuk teror itu dengan kualitas manajemen konflik seperti apa, tentu aparat Polri harus segera bergerak efektif untuk mencari dan menangkap pelakunya, serta membongkar motif di balik itu.
Selain itu, penting juga masyarakat menunjukkkan rasa tidak takut dan tindak perlawanan atas segala macam teror, salah satunya dengan cara mengaktifkan kembali siskamling dilingkungan masing-masing.

Dan menurut saya, kepada semua warga politik dimana saja berada terutama yg masih peduli terhadap demokratisasi berkualitas di negeri ini, maka tentu harus ikut waspada mengantisipasi, dan mencegah kemungkinan tereskalasinya proses manajemen konflik kotor oleh oknum dari kelompok politik tertentu, yang ada di tengah kita saat ini, seperti teror bakar motor ini.

Bagi kelompok lawan politik yang merasa menjadi korban teror politik, maka terhadap manajemen konflik kotor seperti teror bakar motor ini tidak perlu dilawan/dibalas dengann cara teror pula. Iklim politik yang kondusif menjelang Pilpres ini, semestinya menjadi tanggung jawab semua pihak agar proses demokratisasi yang sudah mulai berjalan sejak awal era-reformasi bisa kita pertahankan dan kita tingkatkan, bukan sebaliknya.

Syaifuddin

Analis komunikasi politik/Akademisi Universitas Mercu Buana

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.