Hari Kanker Anak Sedunia: 300 Ribu Anak Didiagnosis Per Tahunnya

Jumat, 15 Februari 2019 - 09:09 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Setiap tahun, jumlah anak penderita kanker terus bertambah. Meski jumlahnya tidak sebanyak pasien dewasa, namun hal itu tentu harus tetap menjadi perhatian.

Dalam laman Organisasi Kesehatan Dunia WHO, Jumat (15/2), setiap tahun, sekitar 300 ribu anak didiagnosis mengidap kanker. Dengan akses perawatan berkualitas, lebih dari 80 persen anak-anak dengan kanker dapat bertahan hidup dan sehat.

Namun, banyak anak-anak di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah tidak mendapatkan akses perawatan dengan mudah. Maka lebih dari 90 persen kematian akibat kanker anak-anak terjadi karena sumber daya yang rendah.

Untuk itu, Hari Kanker Anak Internasional yang jatuh pada 15 Februari diharapkan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat dunia atas kanker. Tentu saja hal itu juga bisa memberi dukungan bagi anak-anak dan remaja dengan kanker, penyintas dan keluarga mereka.

Respons global diperlukan untuk memberikan kesempatan terbaik bagi anak untuk selamat dari kanker. WHO telah menyoroti pentingnya mendiagnosis kanker anak sejak dini dan meningkatkan akses pengobatan untuk anak-anak dan remaja dengan kanker.

Pakar Kesehatan dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia (FIK UI) Allenidekania, yang juga fokus di bidang Keperawatan Anak, mengatakan momentum Hari Kanker Anak Internasional harus menjadi pendorong semangat agar anak tetap ceria dan semangat. Anak tak boleh tertekam atau stres selama menjalani pengobatan atau erapi dalam waktu yang lama.

“Bagaimana fokus pada peningkatan kualitas hidup anak. Anak harus ceria, walau anak sedang terapi jangka panjang anak tak boleh tertekan, tak boleh stres. Psikologisnya harus dibangkitkan. Supaya tetap sehat, sejahtera, tetap aktivitas dan sekolah,” kata perempuan yang akrab disapa Allen itu kepada JawaPos.combaru-baru ini.

Allen menjelaskan banyak anak-anak dengan kanker terdeteksi saat masa balita dan batita atau usia sebelum sekolah. Maka pihak akademisi terus mengedukasi kepada masyarakat untuk jangan menunda atau membiarkan gejala yang dicurigai sebagai kanker.

“Lebih sadar dengan gejala-gejala yang dicurigai kanker. Jangan menunda-menunda. Sebenernya kanker anak bisa dicegah kematiannya, dicegah untuk tidak lebih parah,” jelas Allen.

Sebab, kata dia, saat ini semua paket pengobatan, terapi, dan teknologi semakin berkembang. Asalkan orang tua bisa mendeteksi secara dini, maka penanganan akan lebih baik dan cepat.

“Tinggal datangnya lebih dini. Karena selama ini yang datang ke rumah sakit adalah mereka yang datang sudah terlambat. Jika ada tumor, maka sudah stadium lanjut. Lalu kalau kanker darah jenis leukemia, sel kanker sudah menyebar,” papar Allen.

Catatannya, selama ini banyak orang tua yang justru masih berpola pikir pergi ke pengobatan alternatif dan enggan pergi ke dokter. Sehingga hal itu membuat deteksi dini terlambat.

Prevalensi penderita kanker anak di Indonesia adalah 4 persen dari kanker dewasa. Di Jakarta saja ada 650 ribu lebih kasus kanker anak.

“Prevalensi meningkat tajam dari tahun ke tahun. Leukemia tetap tinggi 30 persen di atas kanker lainnya,” tutup Allen.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *