Hoaks & Ujaran Kebencian Marak, Kesempatan Pers Kembalikan Marwah  


FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian (hate speech) di media sosial (medsos) maupun media konvensional memiliki dampak yang luar biasa di masyarakat. Dampak negatifnya memang sangat besar karena bisa memecah belah masyarakat terutama jelang Pilpres 2019, namun di dunia pers, hoaks harus dijadikan berkah untuk mengembalikan marwah media mainstream sebagai sumber informasi terpercaya.“Saya kira berkembangnya hoaks ini bagi media mainstream sebenarnya sebuah berkah juga. Artinya masyarakat bisa terbukakan matanya mana sebenarnya pers yang professional dan mana pers yang tidak professional,” ujar Ketua Dewan Pengawas Forum Pemred Suryopratomo di Jakarta, Jumat (15/2/2019).Menurut Tommy, panggilan karib Suryopratomo, kondisi ini menjadi tantangan bagi media mainstream bagaimana meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam membuat berita. Itu harus dilakukan dan bukan hanya dengan menerapkan prinsip-prinsip jurnalisme yang harus dipenuhi, tetapi juga kedalaman investigasi dalam mencari kebenaran jurnalistik.Ia menilai, berita itu bukan hanya sekadar untuk memuaskan para pembuat beritanya, tetapi juga harus memberikan manfaat kepada masyarakat sehingga terbuka informasi dan wawasannya, serta bisa mengerti duduk perkaranya.“Itulah tantangan pers di media mainstream di tengah menjamurnya media online. Kalau media atau pers bisa mempertahankan tantangan itu dan meningkatkan kemampuan profesionalismenya maka lama-lama akan meningkat lagi kepercayaan publikterhadap media mainstream itu,” jelas Tommy.Dengan demikian, ia menegaskan bahwa keberadaan medsos jangan dilihat sebagai ancaman, pun juga jangan dipandang medsos akan menggantikan peran media mainstream. Dalam pandangannya, sepanjang medsos itu tidak bisa melakukan verifikasi sehingga tidak mampu memberikan informasi yang berkualitas.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar