Pentingnya Tahap Prehospital bagi Pasien Sindrom Koroner Akut

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Berdasarkan data Global Health Data Exchange (2017) penyakit jantung iskemik menjadi peringkat ke-2 penyebab utama kematian di Indonesia setelah stroke sejak 2007-2017, dengan peningkatan sebesar 29%.

Hal ini juga didukung dengan data survey Indonesia Sample Registration System (2014) yang menunjukkan bahwa penyakit jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi pada semua umur setelah stroke, yakni sebesar 12.9%.

Dr. Ade Median Hambari, SpJP sebagai perwakilan Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiolovaskular Indonesia (PERKI) menerangkan, rekomendasi waktu sejak diagnosis hingga memperoleh pertolongan terapi reperfusi bagi pasien yang datang ke RS yang mampu memberikan pelayanan Intervensi Koroner Primer (lKP) adalah 90 menit.

Sedangkan bagi pasien yang datang ke RS yang tidak mampu memberikan layanan IKP, yang kemudian ditransfer RS Iainnya yang mampu memberikan layanan IKP guna memperoleh terapi reperfusi direkomendasikan dalam rentang waktu 120 menit.

“Namun, dari sudut pandang tata laksana penanganan Sindrom Koroner Akut (SKA), terdapat fenomena keterlambatan diagnosa pasien di mana kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala awal dan berkonsultasi kepada tenaga medis diperlukan untuk meningkatkan kebethasilan proses penyembuhan,” jelas dr. Ade di Jakarta, Senin (18/2).

Dr. Dafsah A Juzar, SpJP(K) juga menjelaskan rendahnya pemahaman pasien akan gejala awal serangan jantung tercermin pada data laporan program ISTEMl (Indonesia ST Elevated Myocardial Infarction) yang dilakukan oleh PERKI di wilayah Jakarta Barat dan sekitarnya. Sehingga pasien SKA memerlukan waktu lebih dari 4,5 jam untuk mencapai fasilitas kesehatan yang memiliki kemampuan reperfusi.

“Semakin lama keterlambatan pasien untuk mendapatkan reperfusi, angka mortalitas pun semakin tinggi,” sambung dr. Dafsah.

PT AstraZeneca lndonesia (AZI) sebagai mitra Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan Center of Health Economics and Policy Science (CHEPS) Universitas Indonesia, mencanangkan program HEBAT (HEanBeATs) Indonesia.

Program ini menyatukan para pemangku kepentingan terkait yang mencakup tenaga kesehatan, asosiasi kesehatan dan para pembuat kebijakan untuk bersama-sama mengevaluasi kondisi riil penanganan SKA pada tahap pre-hospital di Indonesia.

HEBAT (HEanBeATs) mempakan program yang memilih pendekatan triple helix, yaitu pendekatan yang menyatukan akademia, industri dan pemerintah untuk melakukan upaya sinergis dan berkolaborasi dengan asosiasi kesehatan guna mengoptimalkan penanganan pre-hospital pada pasien SKA di Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari Nota Kesepahaman (MoU) yang ditandatangani pada tahun 2017 antara Kementerian Kesehatan dan AZI dalam upaya menangani penyakit tidak menular seperti kardiovaskular, pernapasan, diabetes, dan kanker di Indonesia.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

0 Komentar