Endoscopy PECD Harapan Baru Pasien HNP Servikal

Selasa, 19 Februari 2019 - 18:28 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Karena kebutuhan untuk mendapatkan hasil pembedahan yang lebih baik dan harapan pasien untuk bisa lebih cepat sembuh, para ahli kesehatan dunia akhirnya menemukan teknik bedah terbaru yang disebut Percutaneous Endoscopy.

Namun baru pada tahun 1990, Tajima dan kawan-kawan memperkenalkan teknik baru tersebut untuk penanganan Herniated Nucleus Pulposus (HNP) servikal, namanya Percutaneous Endoscopic Cervical Discectomy (PECD). Sering disingkat pula menjadi Endoskopi Servical.

Beruntung di Indonesia sejak 8 November 2018 lalu dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS, Dokter Spesialis Bedah Saraf telah menjadi dokter Indonesia yang menjalankan praktek PECD pada pasien pertama di RS Meilia Cibubur.

Tantangannya memang tak mudah untuk mewujudkan teknik yang sudah dikenal sejak tahun 1990-an di negara Iain zini baru bisa diterapkan di Indonesia.

“Masalah mahalnya alat yang harus di beli dokter atau rumah sakit, menjadi masalah yang harus menjadi perhatian bersama,” kata dr. Mahdian di Cibubur, Jakarta, Selasa (19/2).

Dijelaskan pula, teknik PECD, menganut dua pendekatan atau teknik yaitu anterior (depan) dan posterior (belakang). Keduanya bertujuan mengilangkan herniasi bantalan sendi tulang belakang yang menyebabkan penekanan pada saraf tulang belakang.

“Dengan bantuan penglihatan langsung melalui kamera endoskopi yang ditampilkan pada layar,” kata dr. Mahdian.

Keuntungan Endoskopi Servikal PECD Dibandingkan Teknik Lain

Selain sayatan yang minimal hanya 4 mm, dapat dilakukan melalui anastesi lokal saja. PECD memberikan harapan yang lebih baik dibandingkan teknik ACDF, total disc replacement (TDR), hingga posterior microdiscectomy pada pengobatan HNP servikal.

“Waktu operasi pasien juga menjadi lebih singkat, pemulihan cepat, kerusakan jaringan lebih minimal,” kata dr. Mahdian.

Hingga saat ini tim dr. Mahdian yang dulu berada dibawah payung Klinik Nyeri dan Tulang Belakang dan kini berganti nama menjadi Lamina Pain and Spine Center telah menangani 10 kasus dengan kesuksesan hasil mencapai 90 persen.

“Keberhasilan PECD ini bergantung pada pemilihan pasien yang tepat dan dekompresi elemen saraf yang adekuat,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *