478.985 Pendaftar SNMPTN Tinggal Tunggu Hasil Kelulusan 23 Maret

Rabu, 20 Februari 2019 - 09:38 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Pendaftaran Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019 ditutup tadi malam (19/2). Kini, para siswa tinggal menunggu dan berharap hasil yang terbaik pada pengumuman pada 23 Maret mendatang.

Sebanyak 478.985 siswa dari 14.060 sekolah menengah atas (SMA) se-Indonesia sudah mendaftar dan mencetak kartu ujian. Jumlah tersebut hanya 62 persen dari total 778.849 siswa yang berhak dan layak mendaftar SNMPTN 2019.

Saat ini Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) sedang mengecek data peserta dengan data bidikmisi. Karena itu, tidak perlu takut bagi siswa yang belum terverifikasi bidikmisi-nya. Panitia akan mendaftarkan data tersebut ke Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kemenristekdikti sebelum dilakukan seleksi oleh 85 universitas se-Indonesia.

”Selama menunggu pengumuman, ya memperbanyak berdoa semoga hasilnya memuaskan bisa diterima melalui jalur SNMPTN,” ucap Ketua Koordinator Pelaksana Teknis LTMPT Budi Prasetyo Widyobroto saat dihubungi Jawa Pos kemarin.

Meski begitu, Budi mengingatkan, siswa juga harus terus belajar dan mempersiapkan diri mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2019. Itu bisa dilakukan jika nantinya gagal di SNMPTN.

Pendaftaran ujian tulis berbasis komputer (UTBK) SBM PTN dimulai pada 1 Maret hingga 1 April mendatang. Kuota yang diambil dari ujian tersebut adalah 50 persen dari daya tampung tiap-tiap universitas. Lebih besar dibanding SNMPTN yang rata-rata hanya 20 persen. Praktis, peluang untuk lolos dan diterima di universitas favorit lebih terbuka.

Kepala Seksi Teknologi Pembelajaran Pendidikan Akademik Kemenristekdikti Fajar Priyautama mengatakan, tujuan pemerintah membuka SNMPTN dan SBMPTN adalah memperoleh calon mahasiswa yang berkualitas. Soal yang dikerjakan bertipe high order thinking skills (HOTS) dengan materi tes potensi skolastik untuk mengukur kemampuan kognitif dan tes potensi akademik (TPA).

Khusus bagi calon mahasiswa pendidikan, lanjut Fajar, siswa harus melakukan tes kompetensi pedagogi untuk mengetahui kemampuan mengajar. Hal tersebut sudah diatur dalam Permenristekdikti Nomor 55 Tahun 2017 tentang Standar Pendidikan Guru. “Ada tes praktik mengajar karena nantinya mahasiswa itu menjadi guru. Dan itu mutlak dimiliki,” kata pria asal Klaten, Jawa Tengah, tersebut saat ditemui di kawasan Mega Kuningan kemarin.

Selain itu, Fajar menyebut Kemenristekdikti sedang mendorong program vokasi. Program pendidikan tinggi yang menunjang pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Tujuannya, setelah lulus, mereka lebih mudah diserap lapangan kerja karena memiliki keahlian yang spesifik. “Pendidikan tersebut setara dengan strata 1. Gelarnya sarjana terapan atau S Tr. Jadi, setelah lulus kuliah, lebih cepat kerja,” ujarnya. (JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.