Simpang Lima, Ikon Pariwisata di Atambua

Kamis, 21 Februari 2019 - 21:09 WIB

JAKARTA – Berbagai atraksi crossborder yang dipersembahkan Kementerian Pariwisata, selalu sukses menghadirkan keramaian di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kegiatan-kegiatan itu, terpusat di Lapangan Simpang Lima. Dan kini, Lapangan Simpang Lima menjelma menjadi ikon pariwisata di Atambua. Lantas seperti apa sih lapangan ini? Kita kulik yuk.

Lapangan Umum Simpang Lima terletak di pusat Kota Atambua, Kabupaten Belu. Simpang lima sendiri merupakan persimpangan dari lima ruas jalan. Dibagian tengahnya, dibangun Tugu Pancasila setinggi sekitar 10 meter. Tugu Pancasila adalah monumen kebanggaan masyarakat Atambua.

Secara geografis, Atambua di Kabupaten Belu merupakan kota yang berbatasan langsung dengan Timor Leste.

Sejumlah agenda yang sering digelar di sana adalah pagelaran musik dan kesenian, bazar barang kerajinan, pameran hingga pacuan kuda.

“Hampir semua kegiatan Festival Crossborder Atambua yang merupakan agenda tahunan Kementerian Pariwisata dan Dinas Pariwisata Provinsi NTT juga Dinas Pariwisata Kabupaten Belu, selalu digelar Simpang Lima. Ini lokasi strategis dan terbaik. Acaranya bisa berbentuk konser musik dan pertunjukan seni budaya,” ujar Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional III Kementerian Pariwisata Muh. Ricky Fauziyani.

Ricky menambahkan, ‘virus’ Wonderful Indonesia memang selalu ditebar di lapangan ini. Tidak kurang dari 20 ribu pengunjung selalu memadati lapangan di jantung kota Atambua ini saat even digelar. Deretan musisi papan atas tanah air yang pernah tampil antara lain Cokelat, Jamrud, Kikan, Judhika hingga Slank.

“Kita terus bekerja keras mewujudkan Atambua sebagai kota festival, salah satunya di Lapangan Umum Simpang Lima ini. Even ini juga sangat berarti secara ekonomi bagi masyarakat. Ini memberikan pendapatan bagi masyarakat sekitar dan menggerakkan roda ekonomi bagi warga setempat,” lanjutnya

Bila ada even yang digelar, wisatawan juga sangat mudah menjumpai akomodasi wisatawan di sekitar Lapangan Umum Simpang Lima Atambua. Ada Hotel Intan, Hotel Matahari dan Hotel Paradiso serta beberapa homestay.

“Selain itu, sambil menonton even yang digelar di lapangan ini, wisatawan juga disuguhkan pesona alam adalah daya tarik utama di Atambua. Seperti Pantai Atapupu yang terletak di Desa Motaain, dekat perbatasan Timor Leste. Pantai yang berpasir putih ini bisa menjadi tempat rekreasi warga Atambua dan wisatawan yang menyeberang dari Timor Leste,” tuturnya

Ada juga Air Terjun Mauhalek, yang berjarak satu jam dari Atambua, di Dusun Fatumuti, Desa Raiulun, Kecamatan Lasiolat, Kebupaten Belu. Air terjun ini tidak jauh dari garis demarkasi RI-Timor Leste dan sumber air penting untuk warga lokal. Nikmatilah gemericik air terjun di sana.

Atambua juga memiliki destinasi wisata bersejarah yaitu Benteng Makes di Bukit Makes. Benteng Makes juga dikenal sebagai Benteng Ranu Hitu atau Benteng Lapis Tujuh. Benteng terletak di puncak Bukit Makes. Sedangkan di Bukit Batu Maudemu, terletak di Desa Maudemu, terdapat peninggalan sejarah berupa kuburan Bangsa Melus.

Terbaru, Kemenpar siap menggelar Konser Musik Perbatasan Atambua (KMPA) 2019 akan menghadirkan grup band besar d’Masiv, 8-9 Maret 2019 mendatang.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kementerian Pariwisata Rizki Handayani, potensi Atambua akan terus digali.

“Potensi Simpang Lima dan Atambua terus kita kembangkan bersama pemerintah dengan promosi Parawisata yang ada di Belu. Tujuannya untuk menjaring wisatawan mancanegara, khususnya Timor Leste. Wisman Timor Leste bisa datang ke lapangan ini lewat pos-pos pintu perbatasan yang ada di NTT lewat 3 Pos Lintas Batas Negara (PLBN). Yaitu PLBN Mota’ain di Belu, PLBN Motamasin Malaka, dan PLBN Wini di Timor Tengah Utara. Juga bisa lewat 6 PLB. Dan untuk mereka, d’Masiv akan datang untuk menghibur dengan lagu lagu hitsnya, jangan dilewatkan. Ayuk ke Lapangan Umum Simpang Lima 8-9 Maret mendatang,” ajak Kiki, sapaan Rizki Handayani.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menilai treatment yang dilakukan selama ini sudah sangat baik.

“Konser musik yang sering dilakukan untuk menarik border tourism terbukti efektif. Sebab selalu mampu menarik wisatawan perbatasan. Hanya saja, kita harus tahu bagaimana karakter wisman, sehingga event yang kita lakukan bisa lebih efektif,” paparnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.