Hasil Penelitian Ungkap Mayoritas Anak Indonesia Kekurangan EPA dan DHA

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Studi yang dipublikasi di British Journal of Nutrition (2016) menemukan, 8 dari 10 anak Indonesia kekurangan asupan omega-3. Salah seorang penelitinya, Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB, memaparkan hasil penelitian tersebut dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Ngobras di Jakarta, Jumat (22/2).

Penelitian Prof. Ahmad menggunakan asupan diet yang didapat dari RISKESDAS 2010. Melibatkan puluhan ribu anak usia 4-12 tahun, dari 33 provinsi. “Asupan makanan dan minuman selama 24 jam direkam, melalui wawancara. Dari sekian banyak makanan, kita lihat asupan sumber lemak yang signifikan,” terang Prof. Ahmad.

Dipilih 118 makanan, yang dianggap paling merepresentasikan pola makan anak Indonesia. Selanjutnya, diambil contoh makanan-makanan tersebut, dari 13 provinsi, merepresentasikan 78% populasi Indonesia.

Sumbernya pun beragam, mulai dari pasar tradisonal, kantin, supermarket, minimarket lokal, hingga penjual di pinggir jalan. Sampel-sampel ini kemudian sibuat komposit, dan diteliti kandungan asam lemaknya di lab IPB dan lab di Belanda.

Setelah itu dievaluasi asupan lemak anak Indonesia berdasarkan kandungan asam lemak yang dikumpulkan dari sampel. Ditemukan bahwa tidak ada anak yang kekurangan lemak jenuh. “Ditemukan bahwa 80,9% anak kekurangan EPA dan DHA,” jelasnya.

Baca Juga : Kekurangan Omega-3 Pengaruhi Intelegensia Anak

Sumber makanan Indonesia yang kaya akan EPA dan DHA antara lain ikan lemuru, ikan sardin, ikan lele, dan susu yang difortifikasi. Adapun tempe dan tahu kaya akan LA dan ALA, tapi tidak mengandung EPA dan DHA. Seafood juga merupakan sumber omega-3 yang sangat baik. Perlu diperhatikan cara pengolahan bahan makanan sumber omega-3.

“Omega-3 merupakan asam lemak tak jenuh ganda, yang mudah rusak akibat pemanasan,” jelas Prof. Ahmad. Kurang disarankan diolah dengan cara digoreng karena melibatkan suhu pemanasan yang sangat tinggi. Lebih baik dikukus, ditumis, atau dibuat makanan berkuah.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...