Kekurangan Omega-3 Pengaruhi Intelegensia Anak

Jumat, 22 Februari 2019 - 20:02 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tumbuh kembang, termasuk intelegensia anak, sangat ditentukan oleh nutrisi, stimulasi, dan faktor lingkungan dalam 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

“Selama masa ini, ada komposisi gizi yang sangat esensial untuk proses tumbuh kembang, misalnya asam lemak esensial,” ungkap Prof. Dr. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, Guru Besar Bidang Keamanan Pangan dan Gizi Departemen Gizi Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB, saat menyampaikan hasil penelitiannya di Forum Ngobras di Jakarta, Jumat (22/2).

Dijelaskan Prof. Ahmad, asam lemak adalah unsur pembentuk lemak, yang terbagi secara dua garis besar: asam lemak jenuh atau saturated fatty acid, dan asam lemak tak jenuh (unsaturated fatty acid).

Asam lemak tak jenuh dibagi lagi menjadi dua: asam lemak tak jenuh ganda atau PUFA (polyunsaturated fatty acid), dan asam lemak tak jenuh tunggal atau MUFA (monosaturated fatty acid). “PUFA terdiri atas omega-3 dan omega-6, dan MUFA berupa omega-9,” kata Prof. Ahmad.

Berdasarkan penelitian Prof. Ahmad dan kolega, kekurangan asupan omega-3 banyak terjadi pada anak Indonesia. Di dalam tubuh, omega-3 (asam linolenat/ALA) diubah menjadi EPA dan DHA. “Keduanya sangat penting dalam pembentukan otak janin,” ujar Prof. Ahmad.

Adapun omega-6 (asam linoleat/LA) diubah menjadi ARA (arachidonat). Riset menemukan, bayi prematur dan mengalami pertumbuhan yang terhambat, lahir dengan defisit ARA dan DHA.

Selain itu, defisit DHA otak ditemukan memengaruhi penglihatan dan kerkembangan kognitif pada bayi prematur dan BBLR (berat bayi lahir rendah).

Prof. Ahmad menjelaskan, bahan kering otak terdiri atas 50-60% lemak. “DHA merepresentasikan 33% dari asam lemak dalam fosfolipid spesifik dari brain gray matter,” terangnya.

DHA dan ARA banyak terdapat pada membran sel otak dan mata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *