Kualitas Pendidikan di Indonesia Masih Rendah

Jumat, 22 Februari 2019 - 18:07 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Sistem pendidikan di Indonesia tergolong besar dan beragam dengan jumlah murid lebih dari 50 juta dan tenaga pengajar sebanyak 2,6 juta yang tersebar di lebih dari 250,000 sekolah di Indonesia. Hal ini telah menjadikan Indonesia sebagai negara dengan sistem pendidikan ke 4 terbesar di dunia (setelah Cina, India dan Amerika).

Akan tetapi, terlepas dari begitu besarnya upaya pemerintah dalam mengembangkan sistem pendidikan di Indonesia, ternyata pendidikan masih belum tersebar secara merata karena masih adanya keterbatasan akses di Indonesia.

Bahkan, berdasarkan data dari Global Education Monitoring (GEM) Report 2016, UNESCO, kualitas pendidikan Indonesia masih perlu ditingkatkan lebih baik lagi dibanding dengan negara lain.

Padahal, guru memegang peranan penting dalam membentuk karakter sebuah generasi, terlebih suatu bangsa. Untuk itulah maka diperlukan dukungan dari semua pihak, termasuk sektor swasta, dalam memberikan dukungan terhadap pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia baik secara langsung maupun tidak langsung.

Najelaa Shihab, Psikolog dan Pendidik, mengatakan lendidikan itu perlu mengantar setiap dan semua anak Indonesia menuju cita-citanya.

“Sebagai bangsa, kita punya tujuan yang besar bukan hanya sekadar pencapaian intelektual atau memastikan pekerjaan, tetapi juga menumbuhkan potensi manusia secara utuh dalam berbagai aspek perkembangan,” jelas Najelaa di kawasan Cikini, Jakarta, baru-baru ini.

Saat ini, lanjut Najelaa, pendidikan Indonesia butuh percepatan perbaikan, ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau murid dan guru di sekolah tapi butuh kita semua untuk ambil peran.

“Banyak komunitas dan organisasi pendidikan, juga individu yang memilih menjadi relawan, kerja barengan untuk pendidikan,” tuturnya.

Harapannya, semakin banyak inovasi dan kolaborasi yang terjadi antara pemerintah, korporasi, organisasi dan publik yang peduli agar pendidikan tetap relevan menghadapi tantangan zaman. Proses belajar-mengajar harus selalu menempatkan murid sebagai subjek, pengajar perlu memanusiakan hubungan dalam menjalankan perannya.

Dikatakan Najelaa, kita semua orang dewasa yang ada di sekeliling anak perlu terus menjadi teladan memfasilitasi anak berdasarkan kebutuhannya, memberikan dukungan dan pengalaman sukses, menerapkan komunikasi yang penuh empati.

“Semoga semua dan setiap anak di Indonesia mendapatkan akses dan kualitas pendidikan yang baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.