Peringati Hari Bahasa Ibu, Hinca Pandjaitan: Bahasa Daerah Sumut Harus Kita Lestarikan

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Hampir seluruh dunia kemarin, Kamis (21/2) merayakan hari bahasa ibu. Berdasarkan badan pendidikan dunia yang bernaung di bawah PBB, yakni UNESCO, menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

Di Indonesia, bahasa ibu sangat identik dengan bahasa daerah. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) mencatat hingga Oktober 2017, bahasa daerah Indonesia mencapai angka yang cukup fantastis, yakni 652 bahasa. Namun yang patut menjadi catatan, ada 19 bahasa daerah terancam punah, 2 kritis, dan 11 dinyatakan sudah punah.

Tokoh Sumatera Utara, Hinca Pandjaitan mengatakan, dirinya sangat menyayangkan fakta tersebut. Pasalnya, bahasa harus diselamatkan demi kelestarian budaya yang sudah beratus-ratus tahun hidup di negeri ini, termasuk Sumut di dalamnya.

“Negara mana yang punya 652 bahasa daerah? Kekayaan Republik ini harus kita jaga. Jangan sampai ada lagi tambahan bahasa yang dinyatakan punah, apalagi di Sumatera Utara,” kata tokoh nasional asal Asahan itu kepada wartawan, Jumat (22/2).

Sekjen Partai Demokrat itu, lantas mengajak seluruh masyarakat Sumut untuk bersama melestarikan setiap bahasa yang ada di seluruh Sumatera Utara. “Bahasa Batak, Mandailing, Angkola, Karo, Melayu, Dairi, Simalungun, semuanya harus kita lestarikan. Mari kita selamatkan aset berharga ini, jangan sampai hilang di telan zaman,” pungkas sosok yang kembali maju menjadi Caleg DPR-RI dapil Sumut III tersebut.

UNESCO menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Organisasi internasional ini mengukuhkannya pada 17 November 1999, dan diperingati setiap tahunnya sejak tahun 2000. (RBA/Fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...