Ini Karakteristik Hipertensi yang Sering Terjadi di Asia

Sabtu, 23 Februari 2019 - 14:51 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tentang karakteristik hipertensi, ada tiga karakter yang menyatakan hipertensi lebih sering terjadi di negara Asia. Pertama, penyakit stroke terutama stroke hemoragic dan gagal jantung stemik yang erat kaitannya dengan hipertensi jauh lebih banyak terjadi di Asia.

Kedua, berdasarkan data Asia Pacific Cohort Studies Collaborations, penyakit jantung dikarenakan hipertensi lebih bayak terjadi pada pasien Asia dibandingkan pasien Australia dan New Zealand.

Ketiga, secara genetik, asia memiliki faktor salt sensitive gene polymorphism dan lebih banyak mengkonsumsi garam.

Mengingat hipertensi merupakan penyakit yang sifatnya katastropik dan dapat menyebabkan kerusakan organ seperti jantung dan ginjal, yang telah menyita beban negara sangat besar. Penyakit jantung sebesar Rp2.665 triliun dan untuk gagal ginjal sebesar Rp2.165 triliun (BPJS 2014), upaya pencegahan dan pengontrolan penyakit hipertensi di Indonesia sebenarnya memerlukan gerakan yang menyeluruh dan melibatkan semua elemen.

“Termasuk di dalamnya masyarakat, dokter dan Pemerintah, sebagai suatu Gerakan Peduli Hipertensi (GPH) sebagai bagian dari Gerakan Masyarakat Sehat (GEMAS) yang sudah dicanangkan oleh pemerintah,” jelas dr. Djoko Wibisono, SpPD-KGH, Ketua Panitia 13th Scientific Meeting of InaSH di Jakarta, Jumat (22/2).

Sementara itu, pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. dr. Suhardjono, SpPD-KGH, K.Ger mengatakan berdasarkan data WHO 2018, prevalensi hipertensi di dunia sebesar 40 persen dan rata-rata dimulai pada usia 25 tahun5 dan menurut data RISKESDAS 2018, prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 34,1 persen.

Faktor risiko hipertensi dapat dilihat dari dua sisi yaitu disebabkan oleh faktor penyerta lain
seperti kerusakan organ (jantung, ginjal atau penyakit kardiovaskular lainnya) dan faktor lingkungan atau gaya hidup tidak sehat seperti konsumsi makanan serba instan dan konsumsi garam berlebih.

“Faktor lainnya yaitu faktor usia. Semakin tinggi umur seseorang maka semakin tinggi angka tekanan darahnya, biasanya lebih banyak terjadi pada laki-laki di atas usia 50 tahun, sedangkan bagi perempuan di usia 65 tahun saat post-menopause,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada intinya, hipertensi harus diobati, semakin cepat lebih baik, karena jika tidak segera diobati dapat menimbulkan kerusakan target organ, infark jantung, stroke, gagal ginjal, vaskular yang berakibat buruk sehingga dapat menimbulkan kematian dan kecacatan.

Pengobatan hipertensi juga ditujukan untuk menurunkan angka morbiditas dan mortalitas dengan cara mengendalikan maksimal semua faktor risiko yang ada.

“Kami menghimbau, masyarakat mau melakukan pencegahan dengan menerapkan modifikasi gaya hidup, makan sehat, olah raga teratur dan patuh terhadapat pengobatan hipertensi yg saat ini mudah didapatkan, serta melakukan deteksi dini tekanan darah baik di rumah maupun di fasilitas kesehatan yang ada,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.