Waspada, Hipertensi Mengintai Generasi Milenial

Sabtu, 23 Februari 2019 - 14:25 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Generasi milenial dihimbau untuk mewaspadai adanya penyakit hipertensi dengan melakukan pencegahan dan pengontrolan penyakit ini.

Generasi milenial yaitu mereka yang berusia sekitar 15 tahun keatas dan menempati 68,7 persen dari populasi (SUPAS 2015) dari keseluruhan jumlah penduduk Indonesia, diharapkan dapat melakukan deteksi dini terhadap penyakit hipertensi.

Mereka dianjurkan melakukan modifikasi salah satu faktor penyebab hipertensi yaitu
melakukan pola hidup sehat sehingga mengurangi risiko terkena hipertensi.

Secara menyeluruh, trend prevalensi penyakit hipertensi sampai saat ini masih terus meningkat demikian pula halnya dengan berbagai penyakit yang berkaitan langsung dengan hipertensi seperti gagal ginjal, stroke dan penyakit jantung.

dr. Paskariatne Probo Dewi Yamin, SpJP memaparkan, menurut data Riskesdas 2018, sebanyak 34,1 persen masyarakat Indonesia dewasa umur 18 tahun keatas terkena hipertensi. Angka ini mengalami peningkatkan sebesar 7,6 persen dibanding dengan hasil Riskesdas 2013 yaitu 26,5 persen.

“Salah satu faktor risiko hipertensi adalah gaya hidup yang tidak tepat yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum milenial,” jelas dr. Paskariatne saat workshop 13 th Scientific Meeting of Indonesian Society of Hypertension (InaSH) 2019 di Jakarta, Jumat (22/2).

Lebih lanjut dr. Paskariatne mengungkapkan studi epidemiologi di AS menemukan sebanyak 7,3 persen kaum milenial (dewasa muda usia 18-39 tahun) terkena hipertensi dan sebanyak 23,4 persen termasuk kategori pre-hipertensi.

Gaya hidup yang dimaksud lebih mengarah pada aktivitas fisik yang berkurang dikarenakan semakin berkembangnya fasilitas yang ada seperti lift yang membuat masyarakat semakin jarang menggunakan tangga, kebiasaan merokok, makanan instan dan cepat saji yang banyak mengandung msg yang jika sering dikonsumsi akan meningkatkan risiko hipertensi.

“Faktor psikososial seperti stress akibat pekerjaan juga dapat meningkatkan risiko terjadinya hipertensi,” ujarnya.

Masih menurut dr. Paskariatne, hipertensi disebut juga sebagai penyakit silent killer atau penyakit yang tidak menimbulkan tanda-tanda khusus. Rata-rata kaum miilenial diketahui terkena hipertensi saat melakukan medical check-up, itu pun jika ada program dari kantornya.

“Sebenarnya hal ini tidak dapat disepelekan, apabila kaum milenial tidak sadar dengan faktor risiko yang ada, maka dapat menimbulkan penyakit berat seperti stroke, ginjal dan jantung,” bebernya.

Maka dari itu, dr. Paskariatne mengingatkan penting untuk meningkatkan awareness masyarakat dengan melakukan deteksi dini atau mengukur tekanan darah sendiri di rumah, apalagi sekarang sudah ada alat pengukur tekanan darah digital yang lebih memudahkan masyarakat dalam mengukur, jadi seharusnya sudah tidak ada hambatan.

“Selain itu, pencegahan hipertensi juga dapat dilakukan dengan mengurangi konsumsi garam makanan instan atau cepat saji yang mengandung MSG, perbanyak aktivitas fisik dan pola hidup sehat lainnya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.