Keruk Emas Secara Ilegal, ‘Bos Emas’ Hanya Dituntut Setahun Penjara

Rabu, 27 Februari 2019 - 18:58 WIB

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Setelah dua pekan lalu, Rabu (13/2/2019) tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) menuntut setahun penjara kepada terdakwa kasus penambangan emas secara ilegal atau ilegal minning yakni si ‘Bos Emas’ Jemis Kontaria, sidang lanjutan dengan agenda nota pembelaan atau pledoi terdakwa batal digelar karena ketidakhadiran penasihat hukum dan terdakwa.

Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Cabang Makassar yang berjanji mengawal persidangan perkara di Pengadilan Negeri Makassar pun menunjukkan reaksi keberatan terhadap tuntutan jaksa.

Direktur Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Mahasiswa Islam (LKBHMI) Cabang Makassar, Juhardi, mengungkapkan, seharusnya jaksa konsisten dalam menegakkan substansi hukum secara materiil. Sesuai Pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP, pelaku penambangan emas secara ilegal diancam hukuman penjara 10 tahun.

“Tuntutan 1 tahun itu sangat sedikit bahkan tidak mencapai setengah dari ancaman hukuman sesuai pasal 161 itu. Seharusnya JPU konsisten dengan undang-undang, mengingat barang bukti yang disita terbilang besar,” jelasnya.

Dia kembali menegaskan, tuntutan JPU kepada terdakwa secara langsung tidak menimbulkan efek jera. Hal itu tentunya menjadi acuan bagi pelaku tambang lainnya yang melakukan tindak pidana ilegal mining.

“Ini tuntutan paling rendah bagi terdakwa ilegal minning. Harusnya jaksa mengacu pada undang-undang Pertambangan Minerba. Kami meminta kepada jaksa untuk memperbaiki tuntutannya dan tetap konsisten dengan substansi hukum materiil,” tambah Juhardi.

Sementara itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU), Wahyuddin SH, saat ditemui di Pengadilan Negeri Makassar, membenarkan, tidak digelarnya sidang kasus ilegal minning dengan agenda pledoi terdakwa pada Rabu (27/2/2019) hari ini.

“Kami tidak menerima kabar dari penasihat hukum terdakwa hari ini. Makanya sidang pun batal digelar,” ucapnya.

Dia mengaku, dua pekan lalu, timnya telah membacakan tuntutan kepada terdakwa Jemis Kontaria dengan tuntutan 1 tahun penjara. Tuntutan hukuman yang sama pun dijatuhkan kepada dua terdakwa lainnya yakni Darwis bin Muhammad Boseng dan Amiruddin.

“Hari ini sebenarnya pembacaan nota pembelaan dari penasihat hukum,” katanya.

Ditanya terkait barang bukti yang telah disita sebelumnya, Wahyuddin menegaskan, barang bukti tersebut telah disita oleh negara. Namun dikarenakan berkas perkara di split atau dipisah satu berkas satu terdakwa, maka barang bukti pun dipisah.

Diketahui perkara yang menjerat ‘Bos Emas’ yang juga pemilik toko emas Bogor di Jalan Buru Makassar selaku terdakwa tersebut, bermula saat Tipidter Bareskrim Mabes Polri menangkap Darwis saat berada di Terminal Bandara Sultan Hasanuddin pada 24 Mei 2018.

Saat ditangkap, tim berhasil mengamankan barang bukti 15 batangan emas dengan berat 16,779,12 gram dari warga yang berdomisili di Kompleks Minasaupa blok GI, Kecamatan Rappocini, Makassar itu.

Selanjutnya tim mengembangkan dan kembali mengamankan Jemis saat berada di toko emasnya di Jalan Buru Makassar tepatnya 25 Mei 2018. Dari tangan Jemis, diamankan barang bukti 18 emas batangan seberat 6.805,62 gram.

Tak sampai disitu, tim kembali pengembangan dan berhasil mengamankan pelaku lainnya, Amiruddin yang saat ini menjalani sidang di Pengadilan Negeri Maros.

Dari tangan Amir disita barang bukti 10 batangan emas dan selanjutnya ketiganya langsung dibawa oleh tim Tipidter Bareskrim bersama total barang bukti sebanyak 43 emas batangan ke Jakarta untuk diproses lebih lanjut.

Atas perbuatannya, Jemis bersama rekannya tersebut didakwa dengan pidana Pasal 161 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batubara Jo Pasal 55 ayat (1) ke- 1 KUHP Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP. (ifa/fajar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *