2018, 89 Orang di Jateng Meninggal Akibat Leptospirosis

Jumat, 1 Maret 2019 - 21:37 WIB

FAJAR.CO.ID, SEMARANG – Sebanyak 89 orang di Jawa Tengah meninggal usai terjangkit penyakit leptospirosis selama 2018 kemarin. Jumlah itu bahkan menjadi yang tertinggi dibanding provinsi lainnya menurut data dari Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2P) Kementerian Kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Yulianto Prabowo mengatakan, sepanjang 2018 lalu, ditemukan 427 kasus leptospirosis di wilayahnya. “Data tahun lalu ada 427 kasus. Tingkat kejadiannya, 1,25 seperseratus ribu penduduk di Jateng. Yang meninggal 89 orang,” katanya saat dihubungi, Jumat (1/3).

Dari penjelasan Yulianto, didapati daerah dengan kasus leptospirosis terbanyak. Yakni, Kabupaten Demak, Klaten, Kota Semarang, Banyumas, Pati, dan lain sebagainya. Menilik dari laman resmi Dinkes Jateng, 2018 kemarin ada 21 daerah yang ditemukan ada leptospirosis.

“Dan daerah dengan banyak dataran rendah yang memiliki banyak genangan. Karena penularannya lewat air, kencing tikus,” jelasnya.

Leptospirosis sendiri dapat didefinisikan sebagai infeksi bakteri langka Leptospira interrogans yang ditularkan lewat air kencing hewan. Macam hewan pembawa bakteri dalam ginjal mereka, terutama tikus. Kata Yulianto, penyakit ini sering ditemukan saat musim penghujan dan yang paling rentan adalah daerah yang kerap tergenang banjir.

“Ya itu, lewat tikus, masuk di got terus lewat gendeng. Kalau tikusnya itu kencing di air yang menggenang atau yang becek-becek, terus manusia itu kontak dengan air itu tanpa pelindung ya kalau ada luka di kakinya ya masuk lewat itu (luka),” terangnya.

Untuk sepanjang tahun ini, dirinya mengaku belum menerima data lengkap soal temuan kasus leptospirosis. Meski, ia tetap membenarkan ada 5 orang lagi kemarin di Demak yang meninggal akibat penyakit ini.

“Sulitnya di daerah-daerah pesisir, genangan itu kan memang sulit diatasi. Makanya itu apalagi di Semarang, Demak, itu kan rob ya. Lha untuk itu ya apakah ini dari (Dinas) kesehatan saja? Tidak, PU, Pertanian juga. Kalau di Klaten itu kan di tanah-tanah pertanian, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Pertanian, itu juga harus bareng-bareng,” katanya.

Namun, dalam meminimalisirnya, pihaknya juga sudah berupaya yang terbaik. Termasuk, menghadirkan sosialisasi ke tengah-tengah masyarakat akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan diri dari serangan penyakit. Seperti pengenaan sepatu boots kala menceburkan diri ke daerah genangan.

“Jateng tertinggi bukan karena kasusnya terbanyak. Tapi dikarenakan Jateng paling aktif melaporkan kasus leptospirosis, sehingga mendapatkan penghargaan dari Dirjen P2P Kementerian Kesehatan,” pungkasnya.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *