Terungkap, Begini Para Residivis Mencetak dan Edarkan Upal di Jogja

Sabtu, 2 Maret 2019 - 11:55 WIB

FAJAR.CO.ID, JOGJAKARTA – Kasus peredaran uang palsu kembali terjadi. Kali ini, terjadi Jogjakarta, tepatnya di Pasar Jagalan, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo. Polisi berhasil mengungkap asal-usul upal yang dicetak di Semarang, Jawa Tengah, itu.

Pengungkapan perkara itu sekaligus membuka tabir sang pencetak upal bernama Ahmad Wildan. Tersangka ternyata seorang residivis di Slawi, Jawa Tengah. Warga Pekalongan, Jawa Tengah, itu bahkan belum lama bebas dari penjara. Setelah diganjar hukuman bui selama 2 tahun 11 bulan dan bebas pada November 2018.

Di hadapan penyidik Polres Kulonprogo pria 30 tahun itu mengaku mencetak upal berdasarkan pesanan pelanggan. Upal 50 lembar pecahan seratus ribu (senilai lima juta) dia jual Rp 1 juta. Uang dari jualan upal dia gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kemampuannya mencetak upal lantaran cukup lama bekerja di dunia percetakan.

“Supaya mirip uang asli saya pakai teknik sablon kaus. Supaya tekstur kertas serupa uang asli,” katanya di Mapolres Kulonprogo seperti dikutip Radar Jogja (Jawa Pos Group), Sabtu (2/3).

Atas perbuatannya polisi menjerat Ahmad Wildan dengan pasal berlapis. Yakni pasal 36, ayat (3) jo pasal 26, ayat (3) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Dia terancam hukuman 15 tahun penjara. Serta pasal 36, ayat (2) jo pasal 26, ayat (2) UU Mata Uang dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara. Subsider pasal 55 KUHP karena sebagai pelaku tindak pidana.

“Kami mengamankan barang bukti berupa perlengkapan mencetak uang palsu di rumah kontrakan pelaku,” ujar Kapolres Kulonprogo AKBP Anggara Nasution.

Di rumah kontrakan Ahmad Wildan polisi juga menyita 900 lembar upal pecahan seratus ribu dan 100 lembar pecahan lima puluh ribu. Barang bukti lain berupa satu set komputer, laptop, tiga printer beserta tinta berbagai warna, tiga lampu neon, enam screen dan tiga rekel sablon berikut cat warna-warni. Ada pula tiga rim kertas resta, obat afdruk, kertas afdruk dan botol berisi serbuk fosfor untuk membuat tanda air pada upal.

Sebagaimana diketahui, peredaran upal di Kulonprogo terkuak sejak penangkapan dua tersangka, Kusnin, 47, dan Sri Miharti, 27, oleh pedagang Pasar Jagalan. Pasutri tersebut juga residivis kasus yang sama. Warga Jepara, Jawa Tengah, tersebut juga pernah berhadapan dengan palu hakim saat tertangkap di Kudus sekitar lima tahun lalu. Keduanya divonis 2,5 tahun penjara. Bebas pada 2016.

Polisi menduga Kusnin dan Sri Miharti merupakan bagian dari jaringan besar pengedar upal. Dari keterangan merekalah polisi berhasil mengembangkan perkara upal dan meringkus Ahmad Wildan.

Kapolres mengatakan, upal buatan Ahmad Wildan memang memiliki berbagai kemiripan dengan uang asli. Bahkan ketika dicek menggunakan lampu ultraviolet (UV), muncul pula tanda air seperti uang asli.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.