Dari Sosialisasi Pemilih di Ambon, KPU: Kami Sudah Optimal

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, AMBON,- KPU meyakini sosialisasi pendidikan pemilih bagi di Maluku sudah cukup optimal. Sosialisasi tersebut bahkan sudah dilakukan dari kampus ke kampus hingga ke wilayah yang dianggap rawan kecurangan.

Komisioner KPU Provinsi Maluku, Iriane Sosiawaty Pontoh mengatakan, untuk wilayah Kota Ambon, pihaknya sudah melakukan sosialisasi di beberapa titik termasuk lokasi yang menjadi pusat konsentrasi pemilih.

“Misalkan untuk pemilih pemula atau anak muda, kita sudah masuk hingga kampus-kampus seperti Univesitas Pattimura dan IAIN Ambon. Kami memang menyasar anak muda,” ungkap Pontoh dalam sosialisi Pedidikan Pemilih Pemilu Serentak 2019, di Santika Hotel Ambon, Minggu (3/3).

Selain itu kata Pontoh, pihaknya juga telah melakukan sosialisasi di wilayah yang dianggap rawan kecurangan seperti di Desa Rumahtiga, Kecamatan Baguala, Kota Ambon. Lokasi itu diketahui banyak terdapat warga yang berasal dari luar daerah sehingga hak pilihnya kemungkinan tidak terakomodir.

“Jadi bisa saja ada pihak-pihak yang memanfaatkan kondisi itu untuk melakukan kecuarangan. Namun kami sudah memberikan edukasi terkait syarat-syarat pemilih yang berada di luar daerah asal,” terang Pontoh.

Selain KPU Maluku, Sosialisasi tersebut menghadirkan Anggota DPR RI dari Komisi II, Rohani Vanath. Dalam sambutannya Rohani menghimbau agar masyarakat ikut berpartisipasi dalam menciptakan Pemilu yang damai.

“Image Maluku sebagai wilayah rawan Pemilu harus di ubah. Beberapa kasus Pilkada, seperti kekacauan yang tejadi di Mahkamah Konstitusi lalu memang jadi catatan penting untuk kita. Namun saat ini, saya percaya masyarakat Maluku sudah lebih dewasa dalam berpolitik,” terang Rohani.

Anggota Komisi II yang bermitra dengan KPU ini juga meminta masyarakat untuk selektif dalam menerima informasi. Di dunia digital saat begitu banyak informasi hoax yang sengaja dibuat untuk menciptakan kegaduhan politik.

“Tugas kita adalah tidak salah menerima informasi hoax dan ikut menyebarluaskannya. Kita harus menjadi pemilih yang cerdas agar demokrasi yang dihasilkan lebih berkualitas,” harapnya.

Sementara itu, terkait tantangan konsolidasi dalam Pemilu, Pengamat politik, Fajrin Rumalutur mengatakan ada tiga faktor yang cukup berpengaruh, pertama politik identitas, kemudian politik uang dan ketiga informasi Hoax.

“Jika tidak ada remed-nya Politik identitas ini bisa mengarah jadi perpecahan di masyarkat. Demokrasi yang dihasilkan pun jauh dari harpan demokrasi. Ini tentu jadi masalah yang harus diatasi,” ujarnya.

Selain itu, kata dia, persoalan lainnya adalah politik uang. Data Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) mencatat pengaruh politik uang dalam pemilu adalah 5 persen. Meski pengharuhnya tidak dominan namun jika dikonversikan dalam jumlah pemilih 192 juta maka totalnya cukup mengkhawatirkan.

“Berikutnya masalah hoax. Saat ini Interaksi masyarakat di dunia maya cukup dominan. Bersamaan dengan itu penyebaran berita palsu atau hoax dianggap ikut membentuk persepsi pemilih. Karenanya Hoax perlu dilawan,” ajak Fajrin.

Sementara itu, sosialisasi pemilih 2019 ini merupakan program kerjasama antara Komisi II DPR RI bersama KPU. Sosialisasi turut menghairkan pembicara dari KPU Provinsi Maluku, Anggota DPR RI Rohani Vanath dan pengamat politik muda Fajrin Rumalutur. (IQ/FAJAR)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...