Muhammadiyah dan NU Tak Perlu Diajari Bhineka

Selasa, 5 Maret 2019 - 12:54 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Akhir-akhir ini Kebhinekaan sering menjadi pembahasan publik. Pasalnya, tak sedikit kelompok yang mengklaim hal itu dalam kondisi terancam oleh perilaku segelintir orang di bangsa ini.

Pengamat Politik Voxpol Center, Pangi Syarwi Chaniago dalam diskusi 4 Pilar MPR mengatakan, Bhineka tak mungkin dihapus, meski dalam bernegara ada perbedaan antar sesama rakyat Indonesia.

“Jadi, tidak mungkin menghapus. Kita ini memang Bhineka. Berbeda tetapi tetap satu. Itu sebuah hal yang memang mutlak,” kata Pangi dalam diskusi.

Menurut Pangi, Bhineka merupakan perekat antar masyarakat Indonesia, sebagaimana yang disampaikan Buya Syafi’i Ma’arif, bahwa kebhinekaan itu adalah sebuah keniscayaan. Ibarat ada satu rumah terdiri dari 11 kamar. Di rumah itu berbeda-beda baik cara makannya, cara kehidupannya. Tetapi kalau sudah keluar mereka bersatu.

“Dalam kamar yang bilik-bilik yang berbeda itu mereka berbeda sebetulnya, ibarat rumah yang banyak kamar itu ibaratnya Indonesia. Jadi mereka, ya tetap Indonesia,” ucap Pangi.

Kemudian, Pangi cerita lagi, misalnya ia saat bersama dosennya. Bicara masalah kebhinekaan. Dosen itu bicara tentang keindonesiaan. Katanya, lihat saja keluarganya. Bapak Islam anak-anaknya ada Islam satu, Kristen satu, Katolik satu Hindu satu. “Nah lihat aja itu, kan Indonesia benar,” kata dosen itu kepada Pangi menirukan.

Jadi, kata Pangi, tidak perlu lagi mengajari orang Indonesia soal bhineka. Begitupun orang yang beragama Islam, atau agama lainnya. Sudah pada tahu tentang toleransi itu.

“Saat ini orang Muhammadiyah tidak mau lagi diajari toleransi. Atau NU juga. Ngapain lagi kami diaajarin toleransi, karena sudah clear soal ini sama mereka, pluralisme , kebhinekaan keindonesiaan,” katanya.

Bahkan, lanjut Pangi, kalau diajari lagi soal toleransi keberagamaan, itu namanya kemunduran. “Maaf. Negara lain sudah bicara soal hotel diruang angkasa. Tapi kita masih bicara debat tentang kebhinekaan, tentang kebudayaan, tentang keindonesiaan,” katanya.

Saat ini Pangi melihat ada fenomena yang agak aneh. Biasanya kalau nasionalisme dengan Islam itu ketemu, tak ada masalah.

“Saya juga pernah diskusi sama Sekjen PDIP Mas Hasto, kenapa kamudian ketika Islam dengan nasionalisme ini dibenturkan biasanya Beliau mengatakan kalau Islam dengan nasionalisme itu dibenturkan itu kepentingan luar, tidak dari dalam,” ungkapnya.

Tetapi ini agak aneh kasusnya, kata Pangi, seperti ada yang dalamnya membenturkan antara nasionalisme dengan Islam. Itu memang tidak terlalu menguntungkan terutama bagi partai PDIP, mungkin masih merasakan bagaimana di basis bawah ketika hadap-hadapan antara kelompok nasionalisme dengan Islam, sangat tidak menguntungkan.

“Saya juga merasakan ketika dihadapkan antara Pancasila dengan anti Pancasila, di sana Pancasila di sini nggak, aku Pancasila kamu nggak Pancasila. Pertanyaannya sampai kapan kita harus menklaim seperti ini, di satu sisi kita menstempel dan disana radikal , di sana tidak toleran di satu sisi di sini juga di stempel bawa ini sangat jauh dari nilai-nilai Islam, jadi dihadap-hadapkan antara Pancasila dengan tidak Pancasila, antara nasionalisme dengan radikal ada yang merasa paling nasionalis ada yang merasa paling Islam, Jadi ini dibenturkan secara terus-menerus antara kelompok yang merasa paling nasionalis dengan kelompok yang paling islam, ini sebetulnya berbahaya seperti 3 hari musim kemarau ketika kelompok nasionalisme dibenturkan dengan Islam, jadi sampaikapan bangsa kita terlalu lama mengajari tentang Pancasila , kebhinekaan itu,” ujarnya. (RBA/Fajar)

loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.