Ini Bocoran Tarif MRT dan LRT

Kamis, 7 Maret 2019 - 07:09 WIB

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Tarif Moda Raya Terpadu (MRT) dan Lintas Rel Terpadu (LRT) nampaknya masih belum dapat diumumkan. Pasalnya, masih belum ada kecocokan antara pihak operator, Pemprov DKI dengan DPRD DKI Jakarta.

Ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta Santoso melihat, bahwa jumlah subsidi yang diajukan untuk MRT dan LRT masih dikatakan terlalu besar. Ia merasa tidak logis rasanya jika membebani calon penumpang dengan harga yang diusulkan untuk moda yang masih dikatakan baru.

“Kami sudah melihat sangat jomplang ya antara subsidi dan tarif yang dibebankan kepada masyarakat,” ucap Santoso di Gedung DPRD DKI Jakarta, Jakarta Pusat Rabu (6/3).

Sebagai informasi, panjang lintasan MRT adalah 15,7 km membentang dari Lebak Bulus sampai Bundaran HI, yang dilengkapi 13 stasiun dengan waktu tempuh 30 menit. Sementara LRT hanya sepanjang 5,8 km dari Kelapa Gading ke Velodrome dilengkapi 6 stasiun dengan waktu tempuh 15 menit.

Estimasi penumpang perhari, MRT menargetkan 65 ribu penumpang, sedangkan LRT mencapai 14 ribu penumpang. Berdasarkan data tersebut menjadi bahan untuk mengajukan subsidi.

Pemprov DKI Jakarta pun mengusulkan subsidi untuk MRT sebesar Rp 21 ribu dan untuk LRT Rp 35 ribu per orangnya. Karena memang tarif asli pun cukup tinggi yakni Rp 31 ribu untuk MRT dan Rp 41 ribu untuk LRT.

Maka dari itu subsidi yang diusulkan cukup besar. Agar warga tidak terbebani untuk tarif yang akan dikenakan nantinya.

Sebelumnya, Pemprov DKI Jakarta juga telah menampung beberapa usulan tarif. Seperti dari DKTJ yakni Rp 12 ribu untuk MRT dan Rp 10.800 untuk LRT. Usulan tarif keduanya itu termasuk integrasi BRT atau Jak Lingko.

Sedangkan, usulan tarif dari BUMD adalah Rp 8.500-10 ribu untuk MRT, dan Rp 5-7 rb untuk LRT. Sementara, usulan dari Pemprov DKI Jakarta sendiri adalah Rp 10 ribu untuk MRT dan Rp 6 ribu untuk LRT.

Melihat hal tersebut, Santoso cukup khawatir jika subsidi yang diberikan tidak benar-benar dirasakan oleh warga Jakarta. Sebab, sesuai informasi yang diperolehnya pengguna transportasi berasal dari luar Jakarta mencapai 70 persen.

“Sementara subsidi yang diberikan kita tidak tahu sebenarnya buat siapa, apakah untuk kebanyakan masyarakat Jakarta atau untuk masyarakat luar,” tegasnya.

Terlebih Santoso pun membandingkan besaran subsidi yang diajukan pihak LRT dan MRT dengan subsidi transportasi di beberapa negara lain yang tidak mencapai 1 Dollar Amerika. Hal ini menurutnya perlu kajian lebih mendalam.

“Kalau dinegara lain saja kecil tidak sampai 1 Dollar subsidinya kenapa kita bisa sampai 2-3 Dollar, itu yang akan kami evaluasi,” tandasnya.

(JPC)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.